Menulis ide, itu mungkin mudah. Tapi
ide untuk menulis yang terasa sangat sulit dimunculkan. eh, betulkah?
kadang bisa jadi berkebalikan. atau bahkan keduanya sangat sulit. depend on yourself...
Jadi
ingat motivator-motivator dalam bidang kepenulisan, Jonru, mbak helvi,
Asma nadia, dan sederetan penulis-penulis yang menulis dengan hati.
Menulis dengan hati. Mungkin inilah inti dari motivasi dan kesinambungan
mereka menghasilkan karya-karya menggugah jiwa.
Ulasan
ini bukanlah tentang motivasi menulis, sebab penulis masih sering
menjadikan menulis sebagai hobi, bukan kewajiban. Tapi ini tentang
sebuah komparisasi, lintas masa (bener gak ya istilahnya?)
Teringat
juga perjuangan para generasi awal memulai membangun pondasi
kesusastraaan islam di Indonesia ini. Bersemangat, penuh vitalitas dalam
da'wah bil kalam mereka.
Terlihat
begitu heroik mozaik kisah-kisah pada penulis muslim generasi dulu.
terlihat dari pesan apa yang tersurat dan tersirat dalam tulisan-tulisan
mereka. dalam narasi fiksi mereka, dalam ulasan-ulasan opini. Bolehkah
kita sedikit sedih dengan perkembangan sastra Islam yang sedikit
banyaknya telah menenggelamkan warna tulisan yang begitu orisinil yang
dibangun oleh penulis terdahulu?
Penulis
masih sempat menemukan dan membaca tulisan-tulisan di majalah Islah
yang waktu kecil pernah dibelikan ayah. Ulasan-ulasan itu mungkin jika
kita temukan sekarang akan teramat membosankan untuk dibaca oleh
mayoritas kita, sebab perkembangan yang teramat cepat membuktikan juga
terhadap perubahan bahasa generasi. Tak hanya perubahan bahasa, tetapi
muatan yang dibawa semakin ringan dan diringan-ringankan. Anehnya
adalah, meski masih kecil dan sama sekalli belum memahami penuh apa yang
dibaca dulu, justru penulis lebih mengingat paparan-paparan kisah di
majalah-majalah dulu ketimbang sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar