Senin, 23 Desember 2013

Menulis

Menulis ide, itu mungkin mudah. Tapi ide untuk menulis yang terasa sangat sulit dimunculkan. eh, betulkah? kadang bisa jadi berkebalikan. atau bahkan keduanya sangat sulit. depend on yourself...
Jadi ingat motivator-motivator dalam bidang kepenulisan, Jonru, mbak helvi, Asma nadia, dan sederetan penulis-penulis yang menulis dengan hati. Menulis dengan hati. Mungkin inilah inti dari motivasi dan kesinambungan mereka menghasilkan karya-karya menggugah jiwa.
Ulasan ini bukanlah tentang motivasi menulis, sebab penulis masih sering menjadikan menulis sebagai hobi, bukan kewajiban. Tapi ini tentang sebuah komparisasi, lintas masa (bener gak ya istilahnya?)
Teringat juga perjuangan para generasi awal memulai membangun pondasi kesusastraaan islam di Indonesia ini. Bersemangat, penuh vitalitas dalam da'wah bil kalam mereka.
Terlihat begitu heroik mozaik kisah-kisah pada penulis muslim generasi dulu. terlihat dari pesan apa yang tersurat dan tersirat dalam tulisan-tulisan mereka. dalam narasi fiksi mereka, dalam ulasan-ulasan opini. Bolehkah kita sedikit sedih dengan perkembangan sastra Islam yang sedikit banyaknya telah menenggelamkan warna tulisan yang begitu orisinil yang dibangun oleh penulis terdahulu?
Penulis masih sempat menemukan dan membaca tulisan-tulisan di majalah Islah yang waktu kecil pernah dibelikan ayah. Ulasan-ulasan itu mungkin jika kita temukan sekarang akan teramat membosankan untuk dibaca oleh mayoritas kita, sebab perkembangan yang teramat cepat membuktikan juga terhadap perubahan bahasa generasi. Tak hanya perubahan bahasa, tetapi muatan yang dibawa semakin ringan dan diringan-ringankan. Anehnya adalah, meski masih kecil dan sama sekalli belum memahami penuh apa yang dibaca dulu, justru penulis lebih mengingat paparan-paparan kisah di majalah-majalah dulu ketimbang sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar