Hampir satu jam saya merapikan laci
lemari pakaian dan rak buku. Berbagai kertas bekas surat menyurat organisasi,
pamflet, undangan rapat, print out cerpen dan aneka kertas lainnya, saya
kumpulkan dalam satu kantong plastik. Kertas-kertas itu siap diungsikan ke
tempat sampah. Heran, bagaimana bisa saya menyimpan kertas-kertas ini selama
setahun lebih ????
Sebenarnya ada rasa sayang membuang
kertas-kertas itu. Kenapa ? Sebab mereka masih bisa dipakai untuk menulis. Tapi
sekarang saya sudah punya komputer atau lepi yang lebih praktis kalau langsung
mengetik. Namun kertas-kertas itu seperti berteriak “Jangan buang kami,, jangan buang
kami,. Simpanlah kami. Kau pasti membutuhkan kami suatu saat nanti.” Saya
trenyuh mendengarkan suara-suara yang tak pernah ada tersebut.
Saya memang suka mengumpulkan
kertas. Entah kenapa, sering ada perasaan, bahwa suatu hari saya akan
membutuhkan materi yang tercetak di kertas itu. Jadilah berbagai kertas tak
beraturan menghuni rak dan lemari. Semakin hari semakin banyak, sedangkan saya
tak kunjung menemukan manfaat dari kertas-kertas tersebut.
Berbeda saat saya masih kuliah dulu.
Saya sering mengumpulkan kertas-kertas apapun jenisnya untuk menulis. Kertas
bekas undangan, pamflet acara kampus, soal-soal kuis dan semesteran, kertas
buram corat-coret saat semesteran, laporan kkn, laporan PL dan berbagai kertas lainnya. Di
tempat wisma saya dulu punya rak khusus untuk menampung kertas-kertas itu.
Saya memanfaatkan bagian kertas yang
masih kosong untuk menulis. Ya, saya menulis di atas kertas-kertas bekas itu
dimanapun dan kapanpun saya mau. Terutama bila mata kuliah yang saya ikuti
sangat membosankan. Uraian dosen seperti dongeng jaman dulu yang selalu dimulai
dengan “pada suatu masa hiduplah...” Jadi daripada mengobrol dengan teman dan
diusir dari ruang kuliah, lebih baik menulis saja.
Jika ada waktu ke rental komputer
atau ke wisma akhwat yang punya komputer, barulah tulisan di kertas itu saya
ketik ulang, sekaligus memperbaiki isi dan bahasanya,hehe.. Ketika saya jatuh sakit sekitar pertengahan
2010, kertas-kertas itulah yang menemani, menghibur, dan menasehati saya,
kenapa kamu tidak jadi penulis saja? Kertas-kertas usang itulah yang pada
akhirnya menggugah dan membuat yakin bahwa saya bisa jadi penulis.
Sayang, sekarang saya sudah
meninggalkan kebiasaan itu. Lebih efektif dan efisien menulis langsung di
komputer. Bisa langsung dicetak ataupun disalin ke blog. Saya harus membuang kertas-kertas
tersebut. Mungkin akan lebih bermanfaat jika tukang sampah memungut
kertas-kertas itu. Tapi...
“Jangan buang kami.”
“Kami masih bisa digunakan.”
Memang bisa.
“Bisa dibuat bubur kertas dan jadi
aneka kerajinan tangan.”
Saya punya banyak buku agenda. Maaf
saya tetap pilih membuang kalian wahai kertas.
Saya meninggalkan kertas-kertas itu di samping rumah. Membiarkan tukang sampah
memungut mereka, dan membawanya ke tempat pembuangan akhir sampah. Orang lain
akan lebih memetik manfaat jika kalian berada di sana. Slah satunya, para
pemulung itu.
#NabZah ^-^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar