Sabtu, 07 Desember 2013

Bersih-bersih



Hampir satu jam saya merapikan laci lemari pakaian dan rak buku. Berbagai kertas bekas surat menyurat organisasi, pamflet, undangan rapat, print out cerpen dan aneka kertas lainnya, saya kumpulkan dalam satu kantong plastik. Kertas-kertas itu siap diungsikan ke tempat sampah. Heran, bagaimana bisa saya menyimpan kertas-kertas ini selama setahun lebih ????

Sebenarnya ada rasa sayang membuang kertas-kertas itu. Kenapa ? Sebab mereka masih bisa dipakai untuk menulis. Tapi sekarang saya sudah punya komputer atau lepi yang lebih praktis kalau langsung mengetik. Namun kertas-kertas itu seperti berteriak “Jangan buang kami,, jangan buang kami,. Simpanlah kami. Kau pasti membutuhkan kami suatu saat nanti.” Saya trenyuh mendengarkan suara-suara yang tak pernah ada tersebut.

Saya memang suka mengumpulkan kertas. Entah kenapa, sering ada perasaan, bahwa suatu hari saya akan membutuhkan materi yang tercetak di kertas itu. Jadilah berbagai kertas tak beraturan menghuni rak dan lemari. Semakin hari semakin banyak, sedangkan saya tak kunjung menemukan manfaat dari kertas-kertas tersebut.

Berbeda saat saya masih kuliah dulu. Saya sering mengumpulkan kertas-kertas apapun jenisnya untuk menulis. Kertas bekas undangan, pamflet acara kampus, soal-soal kuis dan semesteran, kertas buram corat-coret saat semesteran, laporan kkn, laporan PL dan berbagai kertas lainnya. Di tempat wisma saya dulu punya rak khusus untuk menampung kertas-kertas itu.

Saya memanfaatkan bagian kertas yang masih kosong untuk menulis. Ya, saya menulis di atas kertas-kertas bekas itu dimanapun dan kapanpun saya mau. Terutama bila mata kuliah yang saya ikuti sangat membosankan. Uraian dosen seperti dongeng jaman dulu yang selalu dimulai dengan “pada suatu masa hiduplah...” Jadi daripada mengobrol dengan teman dan diusir dari ruang kuliah, lebih baik menulis saja.

Jika ada waktu ke rental komputer atau ke wisma akhwat yang punya komputer, barulah tulisan di kertas itu saya ketik ulang, sekaligus memperbaiki isi dan bahasanya,hehe..  Ketika saya jatuh sakit sekitar pertengahan 2010, kertas-kertas itulah yang menemani, menghibur, dan menasehati saya, kenapa kamu tidak jadi penulis saja? Kertas-kertas usang itulah yang pada akhirnya menggugah dan membuat yakin bahwa saya bisa jadi penulis.

Sayang, sekarang saya sudah meninggalkan kebiasaan itu. Lebih efektif dan efisien menulis langsung di komputer. Bisa langsung dicetak ataupun disalin ke blog. Saya harus membuang kertas-kertas tersebut. Mungkin akan lebih bermanfaat jika tukang sampah memungut kertas-kertas itu. Tapi...

“Jangan buang kami.”

“Kami masih bisa digunakan.”

Memang bisa.

“Bisa dibuat bubur kertas dan jadi aneka kerajinan tangan.”

Saya punya banyak buku agenda. Maaf saya tetap pilih membuang kalian wahai kertas.

            Saya meninggalkan kertas-kertas itu di samping rumah. Membiarkan tukang sampah memungut mereka, dan membawanya ke tempat pembuangan akhir sampah. Orang lain akan lebih memetik manfaat jika kalian berada di sana. Slah satunya, para pemulung itu.

#NabZah  ^-^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar