Jumat, 11 Mei 2012

Kenapa mesti Ada Ujian


Sekolah. Ujian. Naik kelas.
Kuliah. Ujian. Naik tingkat.
Hidup. Ujian. Penghapusan dosa. Peningkatan derajat.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS Al Ankabuut : 2)

Ujian. Kadang datang bagaikan palu godam yang menghantam. Kadang berupa beban menggayut di pundak. Kadang pula serasa menekan menyesakkan dada. Dunia gelap. Cahaya redup berpendar-pendar.

Kala ujian datang, rasanya diri tak sanggup menanggungnya. Menolehlah ke sekitar. Lihatlah, ada jiwa lain yang diuji olehNya. Dan ia tegar. Padahal, Masya Allah, tampaknya ujiannya begitu berat. Melihat ke ujian sendiri ternyata bagai debu saja.

Ah, Allah memang Maha Tahu. DiberiNya cobaan, diberiNya pula kekuatan. Semua sesuai kapasitas. Menolehlah. Setiap jiwa mendapat soal ujian. Dan setiap jiwa telah disediakan jawaban. Hanya, sudahkah menggali dan mencari jawaban-jawaban dariNya.

Sekolah, bukanlah sekolah jika tanpa ujian. Begitu pula hidup, sebuah sekolah abadi.

Ujian, sebuah pengharapan. Terhapusnya dosa atau naiknya derajat di mataNya.

Kamis, 10 Mei 2012

Tahapan Menghafal Al-qur'an

Jiwa yang tak pernah dibacakan Al-Quran, seperti kuburan. Sepi, sendirian, dan kering-kerontang. Zaman ini, sedikit sekali orang-orang yang hafal Al-Quran.
Ketika zaman semakin berputar mengikuti arus syahwat manusia, selayaknya lah kita sebagai orang Islam (mungkin) harus mulai kembali menanamkan azam dan niat, tekad dan keinginan untuk mulai menghafal Al-Quran.
Dan untuk memudahkan menghafalnya, ada beberapa teknik dan persiapan yang khusus yang bisa dipakai. Beberapa di antaranya:
  • lkhlaskan niat dan bersabar
  • Jangan lupa baca basmillah dulu
  • Berdoa kepada Allah swt
  • Bersih dari hadas kecil dan besar
  • Sebaiknya menghadap kiblat
  • Memakai pakaian putih yang bersih dan menutup aurat
  • Jangan banyak berkata dan ketawa ketika membaca dan menghafal
  • Memberikan perhatian sepenuhnya
  • Jangan membaca ketika mengantuk atau menguap
  • Berhenti membaca ketika ingin buang angin
  • Salat dua rakaat sebelum memulai
SEBELUM MENGHAFAL
  1. Mempunyai azam dan minat untuk menghafal
  2. Memilih waktu yang sesuai untuk menghafal
  3. Memilih tempat yang sesuai untuk menghafal
  4. Berada dalam keadaan tenang
  5. Tenangkan pikiran sebelum menghafal
  6. Pilih sebuah jenis mushaf dan jangan ubah dengan jenis mushaf lain
  7. Beristighfar, membaca selawat dan doa sebelum mulai menghafal


TEKNIK-TEKNIK MENGHAFAL
A. Teknik "Chunking” (potongan-potongan)
  • Mengelompokan ayat yang panjang dalam beberapa bagian yang memang sesuai mengikuti arahan guru atawa ustadz, jika belajar bersama mereka
  • Mengelompokan awal surat pada beberapa bagian (2 atau 3 bagian) yang sesuai
  • Mengelompokan surat dalam beberapa bagian, contohnya mengikut pertukaran cerita
  • Mengelompokan juz kepada beberapa bagian mengikut surah, hizib, rubu', cerita dan sebagainya
  • Mengelompokan kelompok surah, setiap 10 juz dan sebagainya
B. Teknik Mengulang
  • Membaca sepotong atau sebagian ayat sekurang-kurangnya lima kali sebelum mulai menghafalnya
  • Membaca ayat yang telah dihafal berulang-ulang kali (10 atau lebih)
  • sebelum berpindah ke ayat seterusnya
  • Selepas menghafal setiap setengah halaman, harus diulang beberapa kali sebelum diteruskan bagian yang setengah halaman lagi
  • Sebelum menghafal bagian Al-Qur'an seterusnya, harus diulang bagian yang sebelumnya.
C. Teknik Menghafal Dengan Teman
  • Pilih seorang teman yang sama-sama berminat
  • Orang pertama membaca dan disimak oleh orang kedua
  • Orang kedua membaca dan disimak oleh orang pertarna
  • Saling menyebut ayat antara satu sama lain
E. Teknik Mendengar Kaset/CD
  • Pilih seorang qari yang baik bagi seluruh Alquran atau beberapa qari bagi surah-surah tertentu
  • Sebelum mulai menghafal, dengar bacaan ayat-ayat yang ingin dihafal beberapa kali
  • Amati cara, lagu dan tempat berhenti bacaan qari tersebut sehingga terpahat di pikiran
  • Mulai menghafal ayat-ayat tersebut dengan cara dan gaya qari tersebut
  • Sentiasa mendengar kaset/CD bacaan Alquran dan kurangi atau tinggalkan mendengerkan lagu-lagu kerana akan mengganggu penghafalan
F. Teknik Merekam
  • Rekam bacaan kita di dalam kaset dan dengarkan lagi untuk memastikan bacaan dan hafalan yang betul
  • Bagi kanak-kanak, rekam bacaan ibu-bapa atau guru kemudian diikuti oleh bacaan kanak-kanak tersebut
  • Minta kanak-kanak tersebut mendengar kembali rekaman tersebut beberapa kali hingga menghafalnya
G. Teknik Menulis
  • Tulis kembali surat yang telah dihafal. Kemudian cek lagi dengan mushaf.
  • Menulis setiap ayat pertama awal surat, atau setiap rubu', atau setiap juz, atau setiap surah dalam sehelai kertas.
MEMELIHARA HAFALAN
  1. Jauhi maksiat mata, maksiat telinga dan maksiat hati
  2. Banyak berdoa, terutama waktu mustajab doa seperti ketika berbuka puasa, ketika dalam perjalanan, selepas azan dan lain-lain lagi
  3. Menetapkan kadar bacaan setiap hari, contohnya, selembar, setengah juz, 1 juz dan sebagainya
  4. Membaca pada waktu pagi dan mengulangnya pada waktu malam
  5. Jangan membaca ketika sedang bosan, marah atau ngantuk
  6. Menulis setiap ayat yang mutasyabih

Minggu, 08 April 2012

Belajar dari sebuah Pohon Tua


Suatu ketika, di sebuah padang, tersebutlah sebatang pohon rindang. Dahannya rimbun dengan dedaunan. Batangnya tinggi menjulang. Akarnya, tampak menonjol keluar, menembus tanah hingga dalam. Pohon itu, tampak gagah di banding dengan pohon-pohon lain di sekitarnya.

Pohon itupun, menjadi tempat hidup bagi beberapa burung disana. Mereka membuat sarang, dan bergantung hidup pada batang-batangnya. Burung-burung itu membuat lubang, dan mengerami telur-telur mereka dalam kebesaran pohon itu. Pohon itupun merasa senang, mendapatkan teman, saat mengisi hari-harinya yang panjang.

Orang-orang pun bersyukur atas keberadaan pohon tersebut. Mereka kerap singgah, dan berteduh pada kerindangan pohon itu. Orang-orang itu sering duduk, dan membuka bekal makan, di bawah naungan dahan-dahan. "Pohon yang sangat berguna," begitu ujar mereka setiap selesai berteduh. Lagi-lagi, sang pohon pun bangga mendengar perkataan tadi.

Namun, waktu terus berjalan. Sang pohon pun mulai sakit-sakitan. Daun-daunnya rontok, ranting-rantingnya pun mulai berjatuhan. Tubuhnya, kini mulai kurus dan pucat. Tak ada lagi kegagahan yang dulu di milikinya. Burung-burung pun mulai enggan bersarang disana. Orang yang lewat, tak lagi mau mampir dan singgah untuk berteduh.

Sang pohon pun bersedih. "Ya Tuhan, mengapa begitu berat ujian yang Kau berikan padaku? Aku butuh teman. Tak ada lagi yang mau mendekatiku. Mengapa Kau ambil semua kemuliaan yang pernah aku miliki?" begitu ratap sang pohon, hingga terdengar ke seluruh hutan. "Mengapa tak Kau tumbangkan saja tubuhku, agar aku tak perlu merasakan siksaan ini?" Sang pohon terus menangis, membasahi tubuhnya yang kering.

Musim telah berganti, namun keadaan belumlah mau berubah. Sang pohon tetap kesepian dalam kesendiriannya. Batangnya tampak semakin kering. Ratap dan tangis terus terdengar setiap malam, mengisi malam-malam hening yang panjang.

Hingga pada saat pagi menjelang. "Cittt...cericirit...cittt" Ah suara apa itu? Ternyata, ada seekor anak burung yang baru menetas. Sang pohon terhenyak dalam lamunannya. "Cittt...cericirit...cittt," suara itu makin keras melengking. Ada lagi anak burung yang baru lahir. Lama kemudian, riuhlah pohon itu atas kelahiran burung-burung baru. Satu... dua... tiga... dan empat anak burung lahir ke dunia. "Ah, doaku di jawab-Nya," begitu seru sang pohon.

Keesokan harinya, beterbanganlah banyak burung ke arah pohon itu. Mereka,akan membuat sarang-sarang baru. Ternyata, batang kayu yang kering, mengundang burung dengan jenis tertentu tertarik untuk mau bersarang disana. Burung-burung itu merasa lebih hangat berada di dalam batang yang kering, ketimbang sebelumnya. Jumlahnya pun lebih banyak dan lebih beragam. "Ah, kini hariku makin cerah bersama burung-burung ini", gumam sang pohon dengan berbinar.

Sang pohon pun kembali bergembira. Dan ketika dilihatnya ke bawah, hatinya kembali membuncah. Ada sebatang tunas baru yang muncul di dekat akarnya. Sang Tunas tampak tersenyum. Ah, rupanya, airmata sang pohon tua itu, membuahkan bibit baru yang akan melanjutkan pengabdiannya pada alam.

***

Teman, begitulah. Adakah hikmah yang dapat kita petik disana? Allah memangselalu punya rencana-rencana rahasia buat kita. Allah, dengan kuasa yang Maha Tinggi dan Maha Mulia, akan selalu memberikan jawaban-jawaban buat kita. Walaupun kadang penyelesaiannya tak selalu mudah ditebak, namun, yakinlah, Allah Maha Tahu yang terbaik buat kita.

Saat dititipkan-Nya cobaan buat kita, maka di saat lain, diberikan-Nya kita karunia yang berlimpah. Ujian yang sandingkan-Nya, bukanlah harga mati. Bukanlah suatu hal yang tak dapat disiasati. Saat Allah memberikan cobaan pada sang Pohon, maka, sesungguhnya Allah, sedang MENUNDA memberikan kemuliaan-Nya. Allah tidak memilih untuk menumbangkannya, sebab, Dia menyimpan sejumlah rahasia. Allah, sedang menguji kesabaran yang dimiliki.

Teman, yakinlah, apapun cobaan yang kita hadapi, adalah bagian dari rangkaian kemuliaan yang sedang dipersiapkan-Nya buat kita. Jangan putus asa, jangan lemah hati. Allah, selalu bersama orang-orang yang sabar.

#Keep Fighting

Mencoba 1 jus or 2 jus/hari


Mengapa harus satu juz setiap hari? Itulah judul tulisan pada lembaran fotocopy-an yang diberikan seorang teman beberapa bulan yang lalu.
"Iya..kenapa harus satu juz, apa enggak kebanyakan tuh?" tanyaku pada temanku itu.
"Baca saja dulu, dicoba, dan lakukan saja terus menerus." jawabnya sambil senyum-senyum

Bukannya tidak bisa. Bisa sih, mungkin bisa kalau bulan Ramadhan. Bulan itu kan semua orang berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur'an dalam satu bulan, berarti minimal satu juz perhari. Suasana dan lingkungan memang mendukung untuk bisa mencapai target itu. Tapi kalau bulan biasa, setiap hari??? Ah!! Apa mungkin sanggup? Begitu pikirku pada awalnya.

Terlepas dari sanggup atau tidak, ternyata membaca Al-Qur'an satu juz memakan waktu sekitar 40 menit sampai satu jam. Setiap hari kira-kira satu jam biasa kita habiskan untuk apa ya? Mungkin untuk nonton TV, untuk baca koran/majalah, atau ngobrol dengan teman. Kalau lagi asyik nonton TV, rasanya waktu habis tidak terasa. Perpanjangan waktu pertandingan bola bukan kita sambut dengan makian, tapi kita malah semakin asyik memelototi kotak ajaib itu. vSatu jam baca Al-Qur'an mungkin akan terasa membosankan (mula-mula). Tapi kita bisa kok menyiasatinya. Satu juz itu biasanya terdiri atas 20 halaman. Jadi setiap kali habis shalat kita bisa tilawah 4 halaman. Kalau dikonversi ke dalam waktu, 4 halaman paling lama menghabiskan waktu 10 menit. Apakah hal yang sulit kalau setiap kali shalat kita menyisihkan waktu sekitar 15 menit (untuk shalat dan tilawah)?

Bisa ya dan bisa tidak. Untuk yang bekerja di kantor mungkin tidak bisa semudah itu "menghilang" 15 menit ketika Ashar. Apalagi kalau memang pekerjaan sedang sangat padat. Tapi, lagi-lagi itu bukan alasan. Karena kita bisa menyiasatinya dengan berbagai cara agar satu juz per hari ini dapat dicapai. Mungkin untuk Dzuhur dan Ashar masing-masing cukup 2 halaman saja, sedang sisanya bisa "dikejar" saat Isya, sebelum tidur, ketika bangun malam, atau saat Shubuh.

Sebetulnya ada banyak sekali cara, tergantung bagaimana kita mengatur waktu kita masing-masing.

Kamis, 05 April 2012

Untuk Yang KKN


Ide tulisan saya bermuncul  dari pengalaman masa-masa KKN saya ketika beberapa tahun yang lalu di Pessel, walaupun hanya beberapa hari saja mengikuti KKN karna Allah mempunyai rencana yang lain, tp alhamdulillah akhirnya LULUS juga,  peribahasa  jawa yang pernah saya dengar sepertinya sudah banyak dikenal orang “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino” (Timbulnya cinta gara-gara sering ketemu/berinteraksi) diplesetkannya menjadi  “ Witing tresno jalaran soko kuliah kerjo nyoto” . Apakah langsung skeptis??? O0ww Tidak! Apakah langsung emosi hierarkis??? O0ww Tidak! Jadi gimana dunk..??!??
Banyak yang berubah dalam kehidupan kita, banyak yang peristiwa yang hilir mudik di kepala kita,  banyak sekali aura-aura negatif yang berperang dengan aura positif, banyak sekali momen yang kadang membuat kita jatuh terjerembab, banyak sekali kebahagiaan yang datang tiba-tiba… agghh … saya bingung mau nulis apa..??$$@@???tuiingg,,tuiingg 

Ya intinya banyak yang berubah! Hidup adalah suatu rentetan peristiwa sambung menyambung, dengannya kita akan merasa hina dan mulia, dengannya kita bisa lebih tahu siapa diri kita, seberapa hina kita di mata Nya, seberapa banyak kita sudah mengenalNya. Itulah hakikat sebenarnya hidup. Begitu juga dengan KKN, apakah dengannya kita bisa lebih mengenalNya, apakah dengan KKN itu  kita menjadi dekat denganNya, atau malah dengannya [???!!??].

ffiiuuhhh, akhirnya ketemu titik conclue nya. KKN idealisme pertama kali yang diusung, mengabdikan ilmu yang kita miliki di bangku perkuliahan untuk masyarakat. Tapi sungguh untuk menyamakan persepsi tentang hal itu  sulit sekali, apalagi banyak kepala dengan isi yang berbeda yang tentu dengan idealisme yang berbeda pula.  Mulai dari KKN sebagai ajang refreshing, ajang kebebebasan cuti kuliah, ajang kebebasan  untuk  ga ketemu dosen, ajang mencari  link kerja, ajang mencari pacar sampai ajang mencari pendamping hidup. 

Sedikit keresahan yang pengen sekali dibagi, ada kesedihan yang pengen sekali untuk disalurkan, ada kegelisahan yang pengen sekali saya ingin kamu-pun merasakannya. Keresahan, kesedihan dan kegelisahan pasca KKN yang pernah saya lalui semoga tidak menyublim ke orang lain (yang mungkin beridealisme sama denganku). Bermula dari futurnya kader, bermula dari berubahnya simat (baca : pakaian) kegelisahan itu masih ada. Resah! teman yang sebelum KKN sudah bisa dikatakan akhwat (pake rok, jilbab syar’i, ga ketat) berubah menjadi ber-celana jeans, ketat dan berjilbab nyekek,. Gelisah! Teman yang dahulunya aktif di lembaga dakwah, bisa dikata “harokers “ (penggerak) menjadi futur sering ber-sms-an dengan cewek bekas teman KKN, sms ga penting lagi. Sedih! teman yang dahulunya kompie alias komputer nyala selalu nashyeed punya berubah menjadi linkin park/dangdut punya. Banyak yang berubah pasca KKN ….

Ngapain segh ngurusin urusan orang lain! Ngurus tuh diri sendiri yang belum ada yang ngurus! Pengennya juga begitu, ga ngurusin masalah orang lain  tapi tetap saja ga bisa. Berbagi pengalaman KKN, bekal yang harus kamu punyai untuk KKN. Walau kelihatannya banyak, dan susah tapi kalau kita berjuang untuk melakukannya ga ada yang ga mungkin.  Terangkai dalam 10 Muwashoffat neeh..
1. Salimul Aqidah ( aqidah yang lurus)
2. Shohikhul Ibadah (Ibadah yang bener)
3. Matinul Khuluq ( Akhlak yang memukau)
4. Qowiyul Jism (Jasad yang kuat)
5. Haritsun  ‘alal waqtiha ( pandai menjaga  waktu )
6. Mujahadul Linafsihi (Berjuang melawan hawa nafsu)
7.  Tsaqoful Fikr ( Pikiran yang luas dan cerdas)
8. Munadzomu fii syuunihi ( teratur dalam segala urusan)
9.  Qodirun ‘alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri)
10. Nafi’un Lighoirihi ( Bermanfaat bagi orang lain)


Ga cuman aqidah saja yang ditempa di KKN tapi semuanya, akan kelihatan asli sosok  kita, egoiskah, teratur-kah, manja-kah, arogan-kah, dsb. Dunia mahasiswa yang super idealis akan benar-benar tidak bersahabat dengan kita, kalau kita ga realitis. 

Pasca KKN –pun saya masih merasa “kacaw” imbas dari KKN, memang gk sestabil dulu sebelum KKN, tapi sekarang Alhamdulillah sudah netral. Memangnya apa yang terjadi di lingkungan KKN?. Aghh.. kalo kamu nanya itu, tulisan ini ga ada endingnya. Dulu, saya merasa ga cantik, ga manis, cerewet, tomboy, cuek-an, dan aq berprinsip keras, gk akan degh sepeser pun anak cowok KKN  akan dekat dengan orang seperti saya. Tapi ternyata saya salah, salah besar yang akhirnya membuat saya berpikir terbalik dan mulai mengoreksi menata semuanya.

Saya kira juga teman biasa, temen se-unit, asli temen ngobrol biasa. Akhirnya kata-kata yang sebelumnya ga pernah saya dengar pun, dan bercita-cita selamanya ga akan mendengar kata-kata itu,  Tapi di KKN terdengar juga, teman saya itu bilang, “ Mau ya fulan menjadi pacar aku,  menemani alur cerita hidupku, untuk kemudian kita bisa saling berbagi “. Watch up saya ga nyadar kalo saya sedang ditembak [Gubrraaak,,, Dasar lugu end Poll hig gw!!]. Saya cuma kaget linglung beberapa saat, ngomongnya di banyak orang lagi! Untung saja dari banyak orang itu pada lagi tidur, yang ga tidur hanya ada 3-4 orang saja.  Waduw…. Koq bisa ya??? Akhwat??? Ga cantik??? Tomboy??? Cerewet???? Pacar ???Arrgggh so dizzy! (dibawa angin lalu aja, cuek, itulah aq)

Pfiiuuuh.. [menghela nafas sejenak]  beri aku kekuatan ya Robb, untuk sebentar terlantun doa dalam hati, “Allohuma inni a’udzubika minnal hammi wal hazan… “ . Egh kamu tahu akhwat itu ga pacaran lho, [gini.. bla.. bla.. ] biasa agak sedikit menyalurkan idealisme... [Semoga saja ia gk sakit hati ataw mau bunuh diri ], “ Kenapa harus mempertaruhkan kenikmatan yang keren setelah nikah dengan kenikmatan yang sesaat, dosa lagi” .  Tanpa sadar,  ternyata anak-anak tadi  yang  tidur ternyata cuma pura-pura tidur. Mereka nyeplos bilang, “Pake ta’aruf dulu?…” yang lain juga keceplosan  “Trus..”  Waaaa tidaaak.. malunya! (>_<), Ya sudah sekalian degh, dakwah ke mereka, walau kutahu mereka gk begitu terpengaruh dengan ucapanku ataw langsung mutusin pacar mereka,  paling tidak mereka sudah terwacanakan dan aq sudah beri sedikit masukan kpd mereka.


Itu hanya secuil kecil belum  permasalahan yang lain-lain, masih banyak yang lain, mulai lagi acara tasyukuran masyarakat desa, acara MTQ, buka bareng bersma masyarakat, mahasiswa KKN juga diundang., dan ketika KKN begitu banyak agenda yang di angkatkan.
Ketika kita disuruh ceramah saat bulan Ramadhan, Apa kita harus takut? Ga boleh takut klo kamu seorang da’I sejati [wuih.. ngeri..] Heh yang namanya da’I itu bukan hanya pak ustadz yang sering khutbah, bukan hanya seseorang yang pegangannya kitab gedhe, bukan hanya akhwat yang jilbabnya sampai nyium tanah, Bukan! Tapi kamu-pun juga da’i, asal kamu orang Islam, kita adalah da’I sebelum segala sesuatunya. Entah ia bisnisman, entah ia dosen, entah ia programmer, entah ia arsitek, yang penting omongan yang kita lantunkan adalah pesan islam pesan kebenaran. [cathet.] Ini secara spesifik tips bisa survive di KKN
  1.  Bagi akhwat yang belum bisa naik motor, jangan KKN dulu, mesthi belajar motor dulu  untuk  meminimalisir boncengan ma cowok.
  2.  Bagi akhwat yang masih juga ga bisa  naik motor, bawa motor dari rumah, siapa tahu ada temen se-unit yang bisa naik motor trus minta bonceng yang cewek yang bisa naik motor.
  3. Bagi akhwat, jangan pernah merasa ekslusif dengan para cewek hedon, siapa tahu hidayah mereka dari Alloh untuk mereka melalui tanganmu, walau diakui memang untuk pertama kali perlu perjuangan ekstra, beradaptasi dengan mereka.
  4.  Bagi ikhwan, tetapkan prinsipmu! Jangan merasa kasihan ma cewek yang ga bisa naik motor, percaya degh kamu orangnya penyayang kepada semua insan, tapi untuk urusan aqidah jangan pernah merasa kasihan.
  5.  Bagi ikhwan, sedapat mungkin ciptakan komunitas relasi yang bagus dengan cowok sehedon apapun itu, tugas kita lebih berat, back-up, back-up perlu banyak diskusi, dan ciptakan kondisi yang agak islami walau ga bisa sepenuhnya islami. Baca tilawah habis maghrib
  6.  Bagi ikhwan n akhwat, koordinasi perlu untuk menciptakan strategi dakwah tapi ingat jaga hijab! Lebih rentan berinteraksi dengan ikhwan untuk akhwat, dengan akhwat untuk ikhwan karena Allah pun sudah memberi kita kecondongan, kendalikan dan lawan nafsumu.
  7.  Bagi ikhwan ataw akhwat, momen KKN adalah dakwah real di masyarakat segera screening, pelajari, endapkan ciptakan strategi perluasan dakwah. Kita telah membuat kontrak jual beli dengan Allah, dan jual beli dengan Allah lebih mulia dari kegiatan apapun.  
  8.  Bagi anak harokers, target terbentuk 1 halaqoh bisa ga pak ataw bu :D? Berjuang Sobat..
  9.  Bagi cowok ataw cewek, berjalan beriringan, yang cowok coba dekati ikhwan yang cewek coba dekati yang akhwat, dijamin! Kamu akan mendapatkan hal yang baru yang membuatmu merasa lebih hidup..
  10.  Untuk All, jaga sholatnya jangan sampai molor banyak dari waktu sholatnya, paling rentan sholat subuh tuh…
Teringat intro tombo ati, ust Arifin Ilham, ada nasehat beliau yang ngena di hati saya,“ Pribadi berdzikir: dzikir menjadi kepribadiannya, Allah tujuannya, Rosululloh SAW menjadi teladan dalam hidupnya, dunia inipun menjadi surga sebelum surga sebenarnya, Bumi menjadi masjid baginya,  Rumah kantor bahkan  hotel sekalipun menjadi mushola baginya , tempat ia berpijak, meja kerja, kamar tidur, hamparan sajadah baginya. Kalau ia bicara bicaranya dakwah,kalau ia berdiam diamnya dzikir, nafasnya.. tasbih, matanya.. penuh rahmat Allah penuh kasih sayang, telinganya… terjaga , pikirannya… baik sangka  tidak sinis, tidak pesimis dan tidak suka memvonis, hatinya subhannalloh diam-diam berdoa, tangannya bersedekah, kakinya berjihad, ia ga mau melangkah sia-sia, kekuatanya.. silaturahmi, kerinduanya.. tegaknya syariah Allah kalau memang hak tujuannya maka sabar dan kasih sayang strateginya asma amanina cita-citanya, sungguh menarik kesibukanya ia hanya asyik memperbaiki dirinya dan  tidak tertarik mencari kekurangan apalagi aib orang lain hadirilah majils dzikir Raihlah kepribadian berdzikir raihlah kepribadian berdzikir dengan menikmati hidangan Allah terlezat  dzikrulloh…
NB : Istilah ikhwan n akhwat hanya sebagai pembebanan tugas, bukan bermaksud sok eksklusif. Yang belum merasa ikhwan atw akhwat jangan pandang kami adalah sesuatu yang sangat sulit untuk diraih, sangat sulit untuk ditiru. Mudah koq asal ada kemauan yang keras. 
#Be Fight Coy..
SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA  ^_^

Selasa, 27 Maret 2012

Aduh...Bagaimana ini..!!!sayang sekali!! Kenapa ya???

Sering kali bahkan tanpa kita sadar kata-kata "Aah..", "Aduh", "Sayang sekali", "Kenapa yah?", "Koq aku dapet masalah terus?", dan kalimat-kalimat lainnya yang terkesan "Keluhan" keluar dari bibir kita.
Kata-kata ringan tapi punya makna belum bisa menerima apa setulus hati apa yang sedang dialaminya,
entah itu ujian dalam bentuk musibah besar atau yang kecil sekalipun.

Satu ketika seorang sahabat bertutur, "Kenapa yah koq akhir-akhir ini berbagai musibah menimpaku? Ditambah lagi teman-teman mulai kurang perhatian padaku dan aduh aku jadi tidak dipercaya.
Ada yang bilang kurang perhatianlah, nggak adillah, inilah itulah. Aku jadi bingung. Padahal aku sudah berusaha berbuat apa yang aku bisa. Aku jadi sedih. Kenapa semua berakhir seperti ini?"

Seseorang yang mulanya berniatan mulia, ketika mendapat tekanan-tekanan dari sekelilingnya bisa saja mengeluarkan penuturan seperti di atas. Di satu sisi dia ikhlas menerima apa yang sedang dialaminya, tapi disisi lain ada bisikan-bisikan yang membuatnya menyesali keadaan.

Keluh kesah yang terpancar lebih disebabkan karena mengikuti dorongan hawa nafsu, tidak mampu menahan rasa pedih atau emosi batin, kurang bersyukur terhadap nikmat yang begitu banyak dibandingkan bencana yang baru menimpa, atau karena kelemahan iman terhadap qadha dan qadar, sehingga tidak memahami hikmah dibalik bencana tersebut.

Kenapa sih mesti ada musibah? Musibah itu adalah sarana ujian atas prestasi keimanan seseorang. Rasulullah SAW bersabda, "Orang-orang yang paling besar mendapat ujiannya adalah para nabi, kemudian para syuhada, kemudian orang-orang setingkat dengannya."

Disamping itu, musibah merupakan sarana untuk mengukur kebenaran iman. Allah menurunkan musibah agar kita benar-benar bisa mengukur apakah benar kita beriman atau tidak? atau bisa jadi musibah diturunkan sebagai azab atas kemaksiatan dan kekufuran agar kita menjadi jera. Bukankah diturunkannya azab di dunia lebih baik dari pada di akhirat kelak? Agar kita lebih dulu menyadari kesalahan dan dosa-dosa kita.

Subhanallah betapa cintanya Alloh pada orang-orang yang mendapat musibah dan berhasil memupuk kesabaran atas dirinya. Alloh berfirman dalam surat Ar-Rum:41, "Telah nampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Alloh merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar."

Kunci utama dari pemecahan masalah ini adalah sabar, yaitu menahan diri dari keluh kesah, amarah, apalagi dari harapan mendapat belas kasihan dari orang lain.
SAW bersabda, "Sabar itu tatkala menghadapi ujian musibah yang pertama." Karena pada saat-saat itulah Alloh menguji iman seseorang, apakah dia berhasil melawannya dengan mengembalikan segala urusannya pada Alloh dan memendam emosinya dalam-dalam, atau malah semakin larut dalam duka yang berkepanjangan hingga selalu merasa gelisah.

Apakah bersabar dengan memendam emosi dapat menyelesaikan masalah? Tentu saja belum. Setidaknya dengan memendam emosi, ada perasaan tenang di hati kita. Ketika perasaan tentram itu datang, akan ringanlah bagi kita untuk berpikir jernih. Ketika ujian kesabaran telah kita lewati, selanjutnya kita harus mencek dan ricek kembali apa hakikat dari musibah-musibah yang telah kita alami.

Mari kita telaah setiap permasalahan / musibah yang sedang kita hadapi, agar kita terbebas dari penyakit keluh kesah, dengan
  • Menjauhi semua penyebab timbulnya penyakit keluh kesah.
  • Mempelajari akibatnya.
  • Memahami makna sabar dan seluruh manfaatnya.
  • Meyakini bahwa cobaan adalah takdir dari Alloh yang terbaik bagi kita, dan kelak akan terbukti hikmahnya.
  • Menahan emosi semaksimal mungkin sehingga tidak menimbulkan reaksi negatif terhadap tindakan fisik.
  • Jika masih ada rasa kesal, segera beranjak dari tempat duduk, ambil air wudhu dan baca istighfar sebanyak 3 kali.
  • Berdoa, "Ya Alloh, selamatkanlah aku dalam musibahku ini, dan semoga engkau menggantinya dengan sesatu yang lebih baik daripada ini."
  • Selalu bersyukur akan nikmat yang diterima.
Bagaimanapun musibah menuntun kita kejalan yang lebih baik dan lewat musibahlah Alloh mengabulkan do'a yang sering kita panjatkan, "Ya Alloh, tuntunlah kami ke jalan yang benar, jalan yang Engkau ridhoi." Agar kita tergolong orang-orang yang beruntung dikehidupan mendatang. Semoga kita bisa mengganti kata Aduh, Sayang Sekali, Kenapa Yah? dengan kata-kata yang lebih punya makna seperti "Masya Alloh", "Astaghfirullah", dan kata-kata lain yang lebih bisa menentramkan hati kita. Wallahu a'lam bishawab

#Renungan Inspiratif

Sepenggal kisah mahasiswa Tingkat Akhir

Sedikit sharing tentang masa-masa tingkat terakhir, saat para mahasiswa sudah disibukkan dengan karya ilmiah "skripsi"
Beberapa belakangan ini banyak mahasiwa tingkat akhir disibukkan dengan berbagai tugas akhir, apalagi yg tinggal 1 bulan lagi, pastinya hal ini menjadi adrenalin buat anda yg sudah dikejar date line,aplagi yang masih bimbingan dengan dosen pembimbing,dan juga akan meghadapi penguji sidang tugas akhir mahasiswa, paling tidak minimal 2 kali dalam sepekan. Buat saya menjadi penguji mempunyai keasikkan tersendiri. Menyenangkan dan menggelikan. Menyenangkan karena melihat hasil karya tugas akhir mahasiswa yang bermacam-macam dengan pendekatan yang berbeda-beda. dan yang paling seru lagi, melihat tampang mahasiswa yang tegang menghadapi para penguji sehingga sering membuat rasa grogi yang kadang berujung pada hilangnya semua yang telah disiapkan, apalagi pada saat sidang ujian akhir.

yang paling sering kita temui pada mahasiswa tingkat akhir adalah:
1. Rajin ke Perpustakaan
Mahasiswa tingkat akhir, pastinya disuruh banyak cari referensi, ntah itu jurnal ato skripsi dari alumni, n mau g mau mereka cari bahan di perpus kampus ato perpus daerah... Kalo yg awalnya mereka cuma sekali dalam 1 semester ke perpus, bisa dipastikan dengan adanya skripsi mereka harus ke perpus berkali-kali, biar dapet revisi banyak

2. Rajin Searching
Selain ke perpus, banyak mahasiswa yg diharuskan cari-cari bahan tambahan di internet, mau ga mau (pasti mau) mereka searching bisa sampe berjama-jam lamanya.. heheheh tp mungkin kebanyakan ngaskus & fesbuk ketimbang cari bahan.

3. Rajin beli kertas & tinta
Kalo yang ini pasti sob, mahasiswa pasti membutuhkan yg namanya kertas n tinta untuk ngeprint skripsi yg dah mereka buat... tp g jarang jg, mahasiswa jadi boros sama kertas, alasannya kalo tiap bab di konsulkan ke dosen, biasanya banyak yg dicoret2 dan harus ngulang lagi

4. Begadang
99% kemungkinan banyak mahasiswa yang begadang, apalagi kalo sudah masuk date line.. wuuiihh bisa ampe jam 2 malem, jam 3, jam 4 shubuh.. bahkan sampe g tidur

5. Makan ga teratur
Kadang terlalu sibuknya mahasiswa, dari kost, kampus, perpus, ketemu dosen dan blaa blaaa blaaaaa nyebabkan mereka makannya g teratur... pagi sarapan, siang ngemil doank, malem g makan, tp tengah malam sambil begadang mereka ngemil lagi

6. Duit cekak
cekak ato malah sama sekali kagak punya duit udah biasa di kalangan mahasiswa.. yaaapp jalan satu2nya adalah ngutang. udah g terhitung berapa banyak mahasiswa di indonesia yg ngutang untuk menutupi skrpisi di akhir semesternya.. mo minta kiriman ortu, malu karena bulan ini minta 2x... Kalo untuk tingkat akhir, ada juga yang ngadain riset ato analisa, n membutuhkan dana yg lumayan banyak... bisa jadi satu sampel analisa biaya peneliatian ampe 300 rbu, bayankan aja klo banyak sampel yg mesti diteliti... tambah bokek ajaa deh si mahasiswa

7. Nunggu Dosen Ampe Kering
Males banget ga sih, klo mesti nunggu dosen yang g pasti datengnya, ditelpon janjinya 1 ato 2 jam lagi ternyata setelah berjam2 g nongol juga.. ammmpooooonnn dahhhhh

8. Riset gagal
Disini parahnya sob, klo misalkan riset ato analisa gagal ditengah jalan ,apalgi kalo sudah didesak dosen untuk cepet selesai.. apa tambah gk puyeng kita... bayangkan berapa usaha yg kita lakukan, berapa duit yang kita keluarkan.. klo ngebayangin itu, naudzubillah... menyedihkan

9. D.O.W.N
jangan sampe ini terjadi sama sob sekalian, ngerasa putus asa, n g ada semangatnya lagi, hal ini bisa terjadi karena :riset gagal, jenuh, ngeliat temennya sudah kelar, minder dll... ketika kita ngerasa down, cari variasi baru ato refresh kan pikiran sejenak untuk ninggalkan masalah skripsi.. yang penting cari suasana baru. Tp inget jangan terlalu kebawa enak, ntar skripsinya dilupaian berabe

10. Emosi Gak Stabil
Mungkin karena pengaruh suasana, mahasiswa kadang2 jadi emosional.. kadang marah2 g jelas, kadang nangis, kadang ngurung diri dikamar.. yaaacchh ngebayangin skripsi mereka yang g kelar.. memang g semua, tp pasti ada beberapa...

walaupun banyak hal-hal yg di alamai oleh mahasiwa tingkat akhir, mudah-mudahan buah yang di dapat akan manis rasanya jika dilakukan dengan sungguh-sungguh. yang di dapat itu pasti luar biasa senangnya, bersakit-sakit dahulu, baru bersenang-senang kemudian.

dan juga ada beberapa hal yang harus disiapkan mahasiswa tingkat akhir :
  1. Memahami dengan benar masalah, karena disanalah proses pemecahan masalah dibahas dengan gamblang.
  2. Menguasai permasalahan skripsi, minimal bahasa yang akan digunakan untuk membangun sistem tugas akhir.
  3. Paham dan menguasai konsep sistem basisdata (database), karena saat membangun atau mengembangan sistem pasti berhubungan dengan basisdata, khususnya yang mengambil domain tugas akhirnya pengolahan data.
  4. Harus mempunyai dan memahami objek yang diangkat dalam tugas akhir. Hal ini sangat penting agar tujuannya fokus tidak mengambang.
  5. Mengumpulkan referensi-referensi yang berhubungan dengan objek yang diangkat dalam tugas akhir, entah berupa buku, ebook atau data yang mendukung.
  6. Sebelum mengajukan proposal tugas akhir pastikan sudah membuat cetak biru (blue print) tugas akhir, untuk memudahkan penyelesaiannya.
  7. Buat jadwal penyelesaian tugas akhir dan pastikan semuanya dilaksanakan dengan disiplin.
  8. Selama menyusun atau masa bimbingan sebisa mungkin membangun komunikasi yang baik dengan para pembimbing sehingga progress penyelesaiannya terukur.
Hal-hal diatas tidak akan terlaksana dengan baik jika penyediaan waktu yang cukup dan semangat untuk menyelesaikannya.Terpenting adalah harus disertai doa agar semua usaha tadi lancar dan bermuara kepada keberhasilan. Alhamdulillah, dengan semangat bersama teman2 kampus, ana pun ikut semangat utk menyelesaikan tugas akhir ini.

Ujian adalah Tarbiyah dari Allah

Mengharapkan keredhaan Allah bukanlah suatu yang mudah buat manusia yang benar-benar menuntut kasih dan sayang dari sang pencipta. Keredhaan Allah itu adalah hak untuk setiap manusia mendapatkannya, namun ia hanya benar-benar layak untuk hamba-hamba yang runtun hati dan jiwanya hanya untuk diserahkan kepada Allah.
Setiap manusia mahu mendapatkan yang terbaik untuk hidup mereka. Ramai yang sadar bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara sebelum manusia dihidupkan semula di akhirat kelak. Namun buat insan yang benar-benar menuntut keredhaan Allah jalan perjuangannya tidak akan dihiasai dengan perkara yang indah, sebaliknya Allah akan mengujinya dengan pelbagai ujian dan dugaan yang bakal menguji keikhlasannya dalam perjuangan.


 Apakah perjuangan yang dimaksudkan?
Perjuangan itu begitu luas konsep dan maknanya, apalah lagi perjuangan adalah matlamat yang tersemat di hati para syuhada yang inginkan syahid dalam setiap pekara yang dilakukan. Meskipun begitu, menuntut ilmu juga ialah perjuangan yang perlu dipikul oleh setiap manusia yang  bergelar pelajar. Tidak kiralah seseorang itu adalah pelajar sekolah rendah ,menengah atau sudah begelar mahasiswa sekalipun. Semua itu adalah termasuk dalam golongan orang yang sedang berjuang mencari martabat ilmu dan pastinya ia mendapat tempat yang tinggi di sisi Allah.

Tewas sebelum berjuang?
Di alam mahasiswa khususnya , tidak ramai yang benar-benar mencapai kejayaan yang sebenarnya. Setiap pejuang yang begelar mahasiswa akan diuji sepenuhnya dalam liku-liku perjalanannya sepanjang menuntut ilmu. Ujian yang datang dari Allah itu akan hadir dalam berbagai-bagai bentuk ujian antaranya ialah diuji dengan kesempitan wang di universiti, diuji dengan bebanan tugasan yang banyak, diuji dengan hati yang lalai kepada cinta ,ada juga yang diuji dengan kesakitan, kematian insan tersayang dan pelbagai lagi bentuk ujian yang diturunkan Allah kepada  hamba-hambaNya.
Setiap insan yang diuji  oleh Allah dengan ujian-ujian tadi selalunya akan merungut, berputus asa malah ada yang mengambil jalan mudah dan singkat bagi menghadapi setiap ujian tadi dengan perkara yang dilarang syariat. Kekurangan uang misalnnya membuatkan seorang mahasiswa yang tidak berfikir panjang medapatkan uang dengan cara yang mudah dan singkat seperti menipu , menghamburkan-hamburkan uang ke dalam pelaburan yang haram dan itulah manusia-manusia yang kering kontang iman dan ketaqwaannya, Naudzubillah. Semua itu bukan lagi bermakna dan dianggap kejayaan kerana manusia seperti ini sudah pun tewas di pertengahan jalan perjuangannya.

Mengapa aku diuji?
" arghh, kenapalah tuhan tidak adil kepada aku"....kenapa aku diuji sebegini sedangkan manusia lain tidak..tension betul.."

Manusia diuji kerana dirinya sudah mendapat perhatian di pandangan Allah, tetapi pandangan yang bagaimana? Pandangan itu ialah pandangan kasih dan sayang pencipta kepada hambanya. Beruntunglah manusia yang sering diuji kerana hidupnya mendapat perhatian dari Allah yang maha mengatahui mengapa ujian itu diberikan.
Bayangkan anda dihimpunkan bersama-sama seluruh penduduk dunia di padang masyar, dalam keramaian manusia tadi tiba-tiba nama anda dipanggil Allah untuk menjadi tetamu syurga. Beruntunglah si pemilik nama tadi yang untungnya tiada tandingan walaupun seberat bulan , matahari dan bumi. Begitulah juga dengan konsep ujian tadi, manusia yang diuji adalah manusia yang mendapat perhatian dari Allah. Dalam berbilion penduduk bumi tetapi hanya satu nama yang mendapat perhatian untuk diuji dengan ujian yang tertentu. Bukankah itu adalah satu keuntungan buat manusia yang diuji tadi? Dengan ujian tadi Allah akan mengangkat martabat hambanya jika dia ikhlas dalam menempuh bebanan yang diamanahkan kepadanya.Sebagai seorang hamba juga kita perlu ingat, ujian yang diterima oleh kita tidak akan sama dengan insan yang lain. Jika kita merasa diri sudah dipikul dengan ujian yang berat sebenarnya masih ramai yang diuji dengan ujian yang hebat dan berat.
Pimpinlah Daku
 "Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka,dan merekalah orang-orang yang beruntung" (Surah Al-Baqarah 2:5)

Hayatilah ayat diatas tadi, sesungguhnya janji Allah adalah benar-benar belaka dan tiada dusta. Allah menjanjikan buat hamba-hambanya yang beramal soleh dengan keuntungan yang tiada nilainya di bumi ini.
Buatmu teman seperjuangan,andai sebelum ini hatimu sering mengeluh dengan ujian yang diturunkan kepadamu maka muhasabahlah segera niatmu dalam menuntut ilmu.
Apa yang kita cari sebenarnya semasa menutut ilmu? wanita, kedudukan,kekayaan atau sebaliknya? Apakah kita tidak merasa untung bila mendapat perhatian dari Allah? Apakah kita akan mudah menyerahkan segalanya sebelum kita benar-benar menamatkan perjuangan yang sebenar di dunia ini. Bukan kita sahaja diuji, sebaliknya setiap manusia akan diuji dengan bemacam-macam jenis ujian yang berbeza.  Hanya masa dan takdir yang akan menentukan  kita ini, apakah benar-benar seorang pejuang atau sebaliknya.
#Renungan buat kita semua