Rabu, 25 Januari 2012

Doa dan misteri pilihan terbaik

Bismillah...
***
Ia terlihat bingung. Bukan bukan, tapi bimbang.

Ini tentang harapan, kenyataan, dan sebuah misteri tentang pilihan terbaik. Rumit. Tapi mungkin tak serumit apa yang dipikirkannya. Atau mungkin, ini hanya persepsi dirinya saja? Yang membuat sulit sesuatu yang sebenarnya mudah? Sederhana.

Dia, sebut saja Surti, baru saja selesai berdoa. Meminta apa yang selama ini menjadi keinginannya. Impiannya. Tiba2, ia teringat nasehat seseorang -entah siapa dia lupa- bahwa apa yg kita inginkan tidak selamanya baik untuk kita. Kita mungkin paling tau apa yg kita inginkan, tapi Alloh lebih tahu apa yg kita butuhkan. Seperti kalamNya,

"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." [QS. AlBaqoroh: 216]

Dia berdoa tentu supaya keinginannya terkabul. Menurutnya, itulah pilihan terbaik saat itu. Dia yakin itu. Tapi ia kembali teringat pesan seseorang -entah siapa ia lagi2 lupa- bahwa "mintalah pd Alloh untuk memilihkan yg terbaik, karena pilihan kita belum tentu baik menurutNya".

Baiklah. Ia menyerah. Ia kembali mengulang doanya. Memohon ampun kalau2 doanya tadi sedikit memaksa. Dia takut jika ucapannya barusan terkesan mendikte Tuhan. Ya Robb, maafkan. Kini ia meminta untuk dipilihkan yg terbaik, menurut Alloh saja.

Selesai.

Tunggu dulu. Dia kembali berpikir. Bukankah setiap orang punya impian? Tidak bolehkah jika dia meminta sesuatu yg baik menurutnya? Harapannya? Tentu saja boleh. Tak ada satu pun dalil yg melarang seseorang untuk berharap. Malah Alloh suka pd hamba yg berdoa kepadaNya. Menggantungkan segala harap hanya padaNya saja. Benar kan?

Lalu, ketika doa2nya belum terwujud, dan bahkan tak ada seorang pun yg mendukung keinginannya, atau muncul kejadian2 yg seolah tak merestui harapannya, situasi2 yg seperti tak berpihak padanya, haruskah ia berhenti berdoa? Apakah ini pertanda Alloh menginginkan sesuatu yg berbeda dari inginnya? Apakah ia salah meminta?

Tidak. Ia merasa ini belum finish. Bukankah Alloh tidak suka pada hambaNya yg tergesa2? Mungkin saja ini memang belum saat yg indah untuk mewujudkan mimpinya. Bisa jadi ini adalah cobaan untuk menguji keteguhan hatinya. Apakah pendiriannya akan berubah? Apakah ia akan berhenti berharap dan menyerah? Atau malah tetap mengusung doa, membulatkan tekad, dan semakin giat berusaha? Bukankah tawakkal itu di akhir? Ketika segenap doa dan upaya telah dikerahkan sepenuhnya?

Jika pilihan terbaik itu masih misteri, haruskan secepat itu ia menyerah kalah? 

O, tidak. Dia tahu pasti Alloh tidak suka pada mereka yg mudah berputus asa. Dia tetap yakin bahwa Alloh mahapengasih dan pemurah. Alloh mendengar, memberi bahkan sebelum kita meminta.

Banyak orang berhasil meraih mimpinya karena berangkat dari sebuah keyakinan bahwa dia bisa. Keyakinan yg kemudian melahirkan gerak ikhtiar dan doa yg tiada henti. Keyakinan akan pertolongan Alloh yg begitu dekat. Sangat dekat. Dan keyakinan bahwa doa2nya akan diamini para malaikat, direngkuh Tuhan, diijabahNya suatu saat.

... dan Surti, ia percaya akan adanya keajaiban, seperti ia percaya bahwa Alloh itu ada.
***