Senin, 11 Februari 2013

Inilah Hidup

Ada kalanya tiba masa-masa sulit; yang membuat hidup serasa
penuh kepedihan dan keluh kesah. Namun, pada saatnya jua
tibalah masa-masa kegembiraan; yang membuat hidup terasa
ringan dan terang. Tanpa sadar bibir kita basah dengan
senyuman. Sesungguhnya, kesedihan, kegembiraan, kekecewaan,
keriangan dan emosi-emosi lain hanyalah sementara.
Sebagaimana sesaatnya malam ditelan siang. Tak selamanya
kesedihan dan kegembiraan melanda anda. Semua itu datang
silih berganti, tanpa selalu dapat dinanti.

Yang perlu anda pahami adalah kesementaraan ini.
Kesementaraan menunjukkan bahwa emosi-emosi itu bukanlah
milik anda. Ia hanya sebuah tawaran dari alam yang menuntun
tindakan dan sikap anda. Ia bukanlah anda. Saat gembira
sadarilah kegembiraan itu. Saat sedih pahamilah kesedihan
itu. Saat anda penuh dengan kesadaran akan emosi anda, saat
itu anda bersentuhan dengan jiwa yang tenang milik anda.

Hidup Terus Berputar

Semua orang tahu hidup itu singkat, namun, berapa banyak yang bisa menghargai atau menyayangi hidup, menjalani hidup diri sendiri dengan baik? Banyak orang yang sewaktu akan meninggal, kerap merasa menyesal terhadap apa yang dilakukannya sepanjang hidupnya, merasa diri ini hidup sia-sia, seandainya bisa kembali membuka lembaran baru, dia pasti ingin menjalani hidup yang berbeda sama sekali. Namun kini segalanya sudah terlambat, malaikat pencabut nyawa sedang mengetuk pintu, waktu yang tersisa tinggal sedikit, tiba-tiba dia baru menyadari dirinya belum pernah hidup.

Karena itu, ketika orang-orang berkata takut mati, sebenarnya yang benar-benar ditakuti adalah, diri sendiri belum pernah hidup yang sesungguhnya. Setiap ketika ada yang meninggal dunia, Anda akan merasa sedih. Namun, pernahkah Anda renungkan? Apakah Anda sedih karena orang yang meninggal itu atau Anda sedih untuk diri sendiri? Sesungguhnya, besar kemungkinan Anda sedih untuk diri Anda sendiri, sebab setiap kematian akan membuat Anda menyadari bahwa Anda juga bisa mati, bagi Anda kematian itu meresahkan dan menakutkan, sebab Anda belum pernah hidup baik-baik sebagaimana mestinya, Anda selalu membuang-buang waktu.