Jumat, 23 Desember 2011




Audzubillaahiminassyaithoonirrojiim Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Segala puji bagi Allah subhanalloohi wata'ala yang senantiasa memberikan kesehatan kepada kita,sholawat dan salam semoga disampaikan kepada panutan kita nabi Muhammad sollalloohu 'alayhi wasallam yang telah menyampaikan keterangan dari Allah mu'jizat yang nyata yakni Alqur'an yang tiada keraguan padanya.
Tiga golongan yang telah Allah kelompokkan yakni beriman munafik dan kafir,selain ini tidak ada golongan lain dimata Allah termasuk golongan yang sering berselisih.Dan hanya kita manusia yang menempati ketiga kelompok ini yakni sedikit berada golongan yang beriman dan banyak golongan munafik dan kafir.Sedang makhluk dan ciptaan Allah yang lain seperti hewan & binatang tumbuhan langit dan bumi termasuk golongan yang beriman,semua tunduk kepada Allah.Matahari dan bulan serta pergeseran siang dan malam adalah ketundukan alam semesta kepada Tuhanya(beredar menurut manzilahnya). 

Dan dengan keterangan keterangan ini saya melihat beberapa ekor semut yang sedang berjalan jalan diMusholla,saya berfikir kenapa kita kalah dengan semut.Padahal kalau dilihat semut bentuknya sangat kecil jika dibandingkan besar badan semut dengan besar badan kita ribuan bahkan jutaan kita jauh lebih besar dari semut serta kemampuan yang dimiliki oleh semutpun tak sebanding dengan kita.Satu semut hanya akan mampu mengangkat beban tidak lebih dari 0,1 ons sedang kemampuan kita mampu mengangkat beban yang hampir setengah kwuintal.

Lalu dimana letak kekalahan kita dengan makhluk Allah yang kuecil ini?.

Kembali pada bait diatas,bahwa bertasbih apa apa yang dilangit dan dibumi termasuk tiap ekor semut.Ia bertasbih dengan syari'at yang berlaku baginya dan jika ia dalam keadaan bertasbih tentunya ia selalu ingat kepada Allah karena ia termasuk golongan yang beriman dan keimanan dari seekor semut tidak pernah naik atau turun seperti kita.Kepercayaan kepada Allah selalu stabil begitu juga cara caranya mengesakan Allah.
Selain itu semut selalu berkeyakinan dimanapun dan kemanapun kakinya melangkah Allah swt bersamanya dan berarti ia tak lalai kepada Tuhanya,semut selalu merasa dekat karena ia mematuhi syari'at dan aturan baginya sebagai seekor semut.
Dan mengapa kita selalu kalah dengan semut,

mengapa pada tiap langkah langkah kita tak mengingat Allah Tuhan kita apalagi memakai aturan kita sebagai manusia,aturan sebagai ciptaan dan aturan aturan yang akan menyelamatkan kita dari siksa neraka,padahal Allah telah memberi lebih jauh kesempurnaan pada kita.kesempurnaan itu adalah bentuk tangan kita serta bentuk tubuh kita adakah bentuk yang sama dengan manusia didunia ini,tak ada.Malaikat tidak seperti manusia apalagi jin dan syetan dan benar manusia itu diciptakan Allah sebagai makhluk yang sempurna makhluk yang paling mulya dari makhluk yang lain,ingatlah ketika Allah menyerukan semua ciptaanya untuk menghormati nabi adam(jabatanya sebagai manusia)semua tunduk.

Akan tetapi ketundukan para makhluk waktu itu adalah manusia yang berupa nabi adam yang berarti manusia yang beriman kepada Allah swt,akan tetapi para makhluk mencemooh para iblis yang waktu itu ingkar ia tidak mau menghormati nabi adam ia lebih memilih kekafiran atas ketentuan Allah swt dan sejak saat itu ia menjadi makhluk yang terlaknat makhluk yang dihinakan dan makhluk yang memiliki azab dari Allah.
Tentunya kita harus berfikir,mengapa manusia dikatakan makhluk yang paling sempurna serta mulya dan adalagi satu makhluk Allah yang hina dan akan selalu terhinakan yakni iblis dan syetan.Dan ini menjadi pilihan bagi kita,akankah kita memilih menjadi manusia seperti nabi adam yang memiliki kemulyaan beriman kepada Allah ataukah kita akan menjadi makhluk yang terhina dan akan dihinakan seperti iblis.

Semoga kita seorang yang pandai memilih,

Senin, 05 Desember 2011

Indahnya Ukhuwah dan Bersahabat karena Allah

Perjalanan kita begitu jauh
Bertemu duri-duri di setiap perhentian
Namun itulah yang perlu ditempuhi
Demi mengejar sinar di hujung destinasi

Barangkali kita terlupa
Di setiap perhentian dihadiahkanNya teman
Hadirnya diiringi kalimat-kalimat indah
Menjadi penyejuk penenenang di hati
Bisa menguatkan langkah perjalanan bertemu rabbi

Wahai teman,
Aku mencintaimu
Mencintaimu kerana Ilahi…


Pernah suatu ketika seorang sahabat Rasulullah SAW menyatakan rasa cintanya kepada baginda. Kali pertama dia menyatakan cintanya, Rasulullah diam. Kali kedua, Rasulullah juga diam. Kali ketiga, baginda masih diam. Kemudian barulah Rasulullah SAW menyatakan bahawa jika sahabat itu benar-benar mencintainya, bersedialah menghadapi ujian dan cabaran.

Aku mengerti,
Yang terlafaz belum tentu terpatri
Dan cinta kita itu pasti diuji
Namun kan kuterus bisikkan doa rabithah hati 
Moga kukuh dan utuh penyatuan cinta kita
Demi Ilahi....


                 Ku tuju khas buat teman-teman yang mengenaliku…jzkllh untuk segalanya lingkaran kecilku,, aku bangga bisa kenal dengan antum semua...




Selasa, 08 November 2011

Cantik...!!!! siapa takut,,,,,

Tidak cantik = Minder dan jarang disukai orang.
Cantik = Percaya diri, terkenal dan banyak yang suka.
AH MASA SIH??

        Itulah sekelumit rumus yang ada dalam fikiran wanita atau bisa juga akhwat. Sebuah rumus simple namun amat berbahaya. Darimanakah asal muasal rumus ini? Bisa jadi dari media ataupun oleh opini masyarakat yang juga telah teracuni oleh media- baik cetak maupun elektronik- bahwa kecantikan hanya sebatas kulit luar saja. Semua warga Indonesia seolah satu kata bahwa yang cantik adalah yang berkulit putih, tinggi semampai, hidung mancung, bibir merah, mata jeli, langsing, dll. Akibatnya banyak kaum hawa yang ingin memiliki image cantik seperti yang digambarkan khalayak ramai, mereka tergoda untuk membeli kosmetika yang dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka dan mulai melalaikan koridor syariĆ¢€™at yang telah mengatur batasan-batasan untuk tampil cantik. Ada yang harap-harap cemas mengoleskan pemutih kulit, pelurus rambut, mencukur alis, mengeriting bulu mata, mengecat rambut sampai pada usaha memancungkan hidung melalui serangkaian treatment silikon, dll. Singkat kata, mereka ingin tampil secantik model sampul, bintang iklan ataupun teman pengajian yang qadarullah tampilannya memikat hati. Maka tidak heran setiap saya melewati toko kosmetik terbesar di kota saya, toko tersebut tak pernah sepi oleh riuh rendah kaum hawa yang memilah milih kosmetik dalam deretan etalase dan mematut di depan kaca sambil terus mendengarkan rayuan manis dari si mba SPG.
Kata cantik telah direduksi sedemikian rupa oleh media, sehingga banyak yang melalaikan hakikat cantik yang sesungguhnya. Mereka sibuk memoles kulit luar tanpa peduli pada hati mereka yang kian gersang. Tujuannya? Jelas, untuk menambah deretan fans dan agar kelak bisa lebih mudah mencari pasangan hidup, alangkah naifnya. Faktanya, banyak dari teman-teman pengajian saya yang sukses menikah bukanlah termasuk wanita yang cantik ataupun banyak kasus yang muncul di media massa bahwa si cantik ini dan itu perkawinannya kandas di tengah jalan. Jadi, tidak ada korelasi antara cantik dan kesuksesan hidup!.

        Teman-teman saya yang sukses menikah walaupun tidak cantik-cantik amat tapi kepribadiannya amat menyenangkan, mereka tidak terlalu fokus pada rehab kulit luar tapi mereka lebih peduli pada recovery iman yang berkelanjutan sehingga tampak dalam sikap dan prinsip hidup mereka, kokoh tidak rapuh. Pun, jika ada teman yang berwajah elok mereka malah menutupinya dengan cadar supaya kecantikannya tidak menjadi fitnah bagi kaum adam dan hanya dipersembahkan untuk sang suami saja, SubhanAlloh. Satu kata yang terus bergema dalam hidup mereka yakni bersyukur pada apa-apa yang telah Alloh berikan tanpa menuntut lagi, ridho dengan bentuk tubuh dan lekuk wajah yang dianugerahkan Alloh karena inilah bentuk terbaik menurut-Nya, bukan menurut media ataupun pikiran dangkal kita. Kalau kita boleh memilih, punya wajah dan kepribadian yang cantik itu lebih enak tapi tidak semua orang dianugerahi hal semacam itu, itulah ke maha adilan Alloh, ada kelebihan dan kekurangan pada diri tiap orang. Dan satu hal yang pasti, semua orang bertingkah laku sesuai pemahaman mereka, jika kita rajin menuntut ilmu agama InsyaAlloh gerak-gerik kita sesuai dengan ilmu yang kita miliki. Demikian pula yang terjadi pada wanita-wanita yang terpaku pada kecantikan fisik semata, menurut asumsi saya, mereka merupakan korban-korban iklan dan kurang tekun menuntut ilmu agama, sehingga lahirlah wanita-wanita yang berpikiran dangkal, mudah tergoda dan menggoda. Mengutip salah satu hadist, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

Siapa yang Alloh kehendaki kebaikan baginya, Alloh akan pahamkan ia dalam agamanya(Shahih, Muttafaqun alaihi).

       Hadist diatas dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz bahwa ia menunjukkan keutamaan ilmu. Jika Alloh menginginkan seorang hamba memperoleh kebaikan, Alloh akan memahamkan agama-Nya hingga ia dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang bathil, mana petunjuk mana kesesatan. Dengannya pula ia dapat mengenal Rabbnya dengan nama dan sifat-sifat-Nya serta tahu keagungan hak-Nya. Ia pun akan tahu akhir yang akan diperoleh para wali Alloh dan para musuh Alloh.

        Syaikh Ibnu Baz lebih lanjut juga mengingatkan betapa urgennya menuntut ilmu syariat:

Adapun ilmu syar'i, haruslah dituntut oleh setiap orang (fardhu ain), karena Alloh menciptakan jin dan manusia untuk beribadah dan bertaqwa kepada-Nya. Sementara tidak ada jalan untuk beribadah dan bertaqwa kecuali dengan ilmu syar'i, ilmu Al-Qur'an dan as Sunnah.

        Dus, sadari sejak semula bahwa Alloh menciptakan kita tidak dengan sia-sia. Kita dituntut untuk terus menerus beribadah kepadaNya. Ilmu agama yang harus kita gali adalah ilmu yang Ittibaurrasul (mencontoh Rasulullah) sesuai pemahaman generasi terbaik yang terdahulu (salafusshalih), itu adalah tugas pokok dan wajib. Jika kita berilmu niscaya kita akan mengetahui bahwa mencukur alis (an-namishah), tatto (al-wasyimah), mengikir gigi (al-mutafallijah) ataupun trend zaman sekarang seperti menyambung rambut asli dengan rambut palsu (al-washilah) adalah haram karena perbuatan-perbuatan tersebut termasuk merubah ciptaan Alloh. Aturan-aturan syariat adalah seperangkat aturan yang lengkap dan universal, sehingga keinginan untuk mempercantik diri seyogyanya dengan tetap berpedoman pada kaidah-kaidah syariat sehingga kecantikan kita tidak mendatangkan petaka dan dimurkai Alloh. Apalah gunanya cantik tapi hati tidak tentram atau cantik tapi dilaknat oleh Alloh dan rasul-Nya, toh kecantikan fisik tidak akan bertahan lama, ia semu saja. Ada yang lebih indah dihadapan Alloh, Rabb semesta alam, yaitu kecantikan hati yang nantinya akan berdampak pada mulianya akhlaq dan berbalaskan surga. Banyak-banyaklah introspeksi diri (muhasabah), kenali apa-apa yang masih kurang dan lekas dibenahi. Jangan ikuti langkah-langkah syaitan dengan melalaikan kita pada tugas utama karena memoles kulit luar bukanlah hal yang gratis, ia butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Bukankah menghambur-hamburkan uang (boros) adalah teman syaitan?. JADI, mari kita ubah sedikit demi sedikit mengenai paradigma kecantikan.


Faham Syariat = CANTIK
Tidak Faham Syariat = Tidak CANTIK sama sekali!
Bagaimana? setuju?.
Dari Abu Hurairah, Rosullalloh saw bersabda
Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati dan amal kalian (HR. Muslim)


Mari kita simak syair indah dibawah ini:

Banyak lebah mendatangi bunga yang kurang harum
Karena banyaknya madu yang dimiliki bunga
Tidak sedikit lebah meninggalkan bunga yang harum karena sedikitnya madu

Banyak laki-laki tampan yang tertarik dan terpesona oleh wanita yang kurang cantik
Karena memiliki hati yang cantik
Dan tidak sedikit pula wanita cantik ditinggalkan laki-laki karena jelek hatinya

Karena kecantikan yang sejati bukanlah cantiknya wajah tapi apa yang ada didalam dada
Maka percantiklah hatimu agar dicintai dan dirindukan semua orang.

Jumat, 14 Oktober 2011

doa rabithoh, yang menjadi ikatan kita. untukmu wahai saudaraQ


 Sebut saja A dan B. Dua orang sahabat yang sejak kecil sering bercanda bersama, menangis bersama, bahkan melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi pun selalu bersama. Kecocokan antara keduanya telah terbingkai dalam sebuah jalinan persaudaraan yang unik, yang tak mudah kita temui di kebanyakan episode persaudaraan yang lain.
Suatu ketika, di sebuah serambi masjid kampus, mereka sepakat untuk saling mengoreksi dan mengevaluasi dir mereka masing-masing. Si A harus mengevaluasi kekurangan dan kelebihan si B. Begitu pun sebaliknya, si B juga harus bisa menyebutkan kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri si A. Mereka bersepakat bahwa beberapa hari lagi akan bertemu di tempat yang sama untuk menyampaikan hasil evaluasi yang mereka siapkan mulai dari pertemuan itu. Hingga tibalah hari dimana mereka menyampaikan boring evaluasinya.
“A, silakan kamu mulai bacakan evaluasimu terhadap tingkahku selama ini.” Ucap si A mengawali pembicaraan.
“Tidak B, kamu saja yang memulainya. Sepertinya tulisanmu lebih banyak. Dan sepertinya kamu lebih siap untuk menyampaikannya lebih dahulu.”
“Hmm, baiklah. Aku yang akan memulainya.”
“Silakan B, aku akan mendengarkan.”
“Tapi,,, kamu janji ya tidak akan marah padaku setelah kubacakan penilaianku padamu?”
“Baiklah, aku tidak akan marah. Sampaikan saja sejujurnya padaku.”
“Err, kamu mau mendengar yang mana dulu? Tentang kelebihanmu atau kekuranganmu?”
“Kekuranganku saja dulu.”
“A, kamu itu orangnya egois, maunya selalu diperhatikan, tidak peka sama lingkungan, tak pernah mau terus terang tentang masalah yang menimpamu. Kamu itu selalu menyalahkan orang lain ketika ada masalah yang menimpamu, kamu itu……”
“maaf B, maafkan aku bila selama ini telah sering menyakitimu.” Ujar si A memotong perkataan si B yang sedang membacakan evaluasinya.
“Tak apa A, maaf juga bila kamu telah tersinggung mendengarkan evaluasiku ini. Tapi, aku masih belum selesai membacakannya. Apakah harus ku hentikan?”
“Tidak B, lanjutkan saja. Aku akan terus mendengarkannya.” Kata si A sambil menyeka pipinya yang mulai meneteskan air mata.
“Kamu itu, maaf…. Pemalas, tergantung pada orang tua, selalu bilang aku seperti anak-anak. Dan kamu itu plin-plan….” Sejenak B menatap wajah saudaranya. Binar matanya mulai terbasahi air mata yang mulai menetes melintasi pipinya.
“A, ada apa? Apa ku menyakitimu? Kalau begitu aku hentikan saja evaluasiku. Aku tak ingin sahabatku bersedih seperti ini.”
“Tidak apa B, terus lanjutkan saja. Aku akan terus mendengarkan nasihat dari sahabat terbaik ku.”
“Aku tak sanggup melihatmu bersedih seperti ini. Biar ku hentikan saja ya.”
“Tolong B, lanjutkan saja. Aku tidak apa-apa sahabatku. Aku hanya ingin mengetahui dari lisanmu mengenai kesalahan-kesalahanku padamu. Apakah kekuranganku masih banyak?” ujar A sambil menahan tangis yang hampir meledak “Maaf A, masih ada tiga halaman lagi. Baiklah, aku lanjutkan.” Si B pun melanjutkan membaca daftar kekurangan si a yang telah ia tuliskan.
Selanjutnya, si B membacakan daftar kelebihan yang dimiliki si A.
“A, bagiku kamu tetap istimewa, kamu adalah temanku yang paling cerdas dan kamu sering mengingatkanku bila ku tersalah.” Si B membacakan daftar kelebihan si A yang hanya tiga paragraph tersebut.
“Sudah A, aku sudah membacakan semuanya. Selanjutnya giliranmu.”
Sambil berusaha senyum, si A membacakan daftar kelebihan dan kekurangan si B.
“Sekarang aku akan membacakan kelebihanmu dulu saja ya B.”
“Baik A, kalau kamu berkenan, silakan.”
“Kamu itu kreatif, cekatan, suka menolong, penuh ide brilian, konsisten, tak mengharap imbalan duniawi, kata-katamu selalu terjaga, dan selalu senyum tatkala menyapa orang-orang di sekitarmu….” Ucap si A panjang lebar hingga tiga halaman A4 ia selesai bacakan.
“sudah B, aku sudah selesai membacakan semua yang kutulis.”
“kekuranganku?”
“Tidak, tidak ada…. Aku sudah rampung membaca semua evaluasiku padamu saudaraku.”
“Apa maksudmu? Apa saja kekuranganku dan tingkah burukku yang telah menyakitimu selama aku menjadi sahabatmu A? coba sebutkan saja, aku tidak akan marah.”
“Aku tak bisa menuliskan apapun pada lembar kekuranganmu A. bagiku, kekuranganmu telah mengajarkanmu untuk lebih dewasa dan bijak dalam mengambil setiap keputusan. Dan semua itu telah terbingkai indah dalam memori hidupku sahabatku. Oleh karena itu tak ada yang bisa kubacakan mengenai kekuranganmu.”
“Duhai sahabatku, maafkan aku. Sungguh engkau adalah sahabat terbaik yang pernah kutemui. Engkau adalah mutiara yang selalu menjadi perhiasan dalam hidupku, menghiasi setiap lembaran perjalanan kehidupan yang penuh kejadian mengharu biru ini.”
Dan kini, serambi masjid kampus itu pun menjadi saksi, tetesan air mata yang mengalir karena sebuah ikatan yang begitu berharga. Ikatan ukhuwah.
*****
Ah, rasanya aku belum bisa menjadi seperti A yang mampu menangkap setiap aura kebaikan dari sahabatnya. Menjadikan segala kekurangan sahabatnya sebagai pelecut semangat untuk mendewasakan diri tanpa mengungkit-ngungkit apalagi membicarakan kekurangan sahabatnya pada orang lain. Kita, pasti pernah punya salah. Bahkan sering kita lakukan pada orang lain. Pada sahabat kita. Saat ego masih tersimpan dalam hati, saat persepsi menutupi mata hati bahwa orang lain harus menjadi yang sempurna di hadapan kita, tanpa cacat, tanpa kekurangan. Maka, sesungguhnya kita telah membutakan mata hati kita untuk memberikan permaafan pada orang lain. Menganggap setiap kesalahan sahabat kita adalah dosa besar yang takkan termaafkan dan telah menutup pintu maaf bagi setiap kesalahan mereka.
Sahabatku, Saudaraku… ikatan kita bukan sembarang ikatan. Kita diikat bukan karena kesamaan kampus, kesamaan asal daerah, kesamaan jurusan, kesamaan organisasi. Akan tetapi kita diikat atas dasar cinta yang terbingkai dalam ukhuwah. Cinta pada Allah dan ukhuwah yang menggelora mempersatukan setiap keping-keping hati yang tersebar di seluruh penjuru bumi-Nya ini.
Sahabatku, Saudaraku… ikatan kita adalah ikatan yang istimewa. Yang telah dipertautkan oleh Yang Maha Istimewa, yang selalu kita ucapkan doa-doa rabithah dalam waktu istimewa kita, di sepertiga malam terakhir sambil berdoa, Ya Allah….Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu ,berhimpun dalam naungan cintaMu, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan, Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, terangilah dengan cahayaMu, yang tiada pernah padam, Ya Rabbi bimbinglah kami. Lapangkanlah dada kami, dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu, hidupkan dengan ma’rifatMu, matikan dalam syahid di jalan Mu, Engkaulah pelindung dan pembela…..

CCTV Allah memang sangat dahsyat, tidak ada yang bisa berbohong satu pun


Mahasiswa sebagian merasa risih dan enggan dengan sebuah teknologi yang satu ini, kamera CCTV. Kehadirannya di ruang-ruang kelas terasa membatasi aktivitas sebagian mahasiswa terutama saat ujian. Kamera CCTV tentu sangat diandalkan oleh pihak kampus sebagai alat bantu pengawasan yang efektif dalam aktivitas belajar-mengajar.
Sempat saya sedikit tergelitik dengan sebuah status di akun Facebook salah seorang teman yang menyatakan bahwa betapa menyebalkannya ‘mata bantu dosen’ ini. Dalam statusnya tersirat nada kesal karena dirinya tidak merasa sebebas saat hanya satu dua pengawas di ruangan yang dengan mudah dia kelabui. Tentu, untuk melakukan beragam ‘aksi’ bantuan ujian; call the friend, ask the audience, atau fifty-fifty.
Namun kegelisahan dan keterkekangan seperti itu tidak berlaku manakala kita membiasakannya setiap saat. Maksudnya, di balik kamera CCTV buatan manusia, sebenarnya telah ada CCTV lain yang jauh lebih hebat, mampu menangkap gambar terdetail dari aktivitas subjek yang diamati; bahkan kamera ini bekerja 24 jam nonstop. Dialah CCTV Allah.
Sebuah kamera yang mampu merekam setiap aktivitas manusia ciptaanNya. Kamera ini mampu menembus batas ruang dan waktu. Tak ada yang mampu bersembunyi atau berkelit darinya. Dan kelak rekaman video setiap detik yang manusia perbuat akan diputar ulang di yaumil akhir sebagai rekam jejak kita.
Tidak ada satu manusia pun yang luput dari pengawasan CCTV Allah. Hebatnya lagi, kamera ini tidak hanya merekam dan menyimpan data rekaman aktivitas manusia. Tapi juga hewan dan setiap makhluk yang diciptakan Allah di alam semesta ini. Nah, kamera mana yang mampu menandingi?
Seorang manusia yang terbiasa dan selalu membiasakan dirinya dengan pengawasan ini akan memiliki self awareness yang menuntunnya menjadi pribadi jujur baik saat sendiri maupun saat berada di tengah masyarakat.
Jika itu berlaku pada setiap jiwa manusia, mungkin tidak perlu lagi ada komisi-komisi pengawas seperti KPK dalam mengatasi kemelut korupsi dana di negeri kita tercinta. Namun, alangkah nisbinya jika manusia tidak pernah berbuat kesalahan. Manusia tetaplah manusia yang rentan tergelincir dalam lubang dosa, bukan malaikat yang senantiasa lurus dan menurut pada titah penciptanya. Untuk itu peran lembaga pengawas dan penindak hukum di dunia layak diperjuangkan efektifitasnya dan keberlangsungannya.
Jangan sampai ada tidaknya lembaga penindak atau pengawas hukum di negara ini menjadi tidak ada bedanya. Korupsi tetap makmur, seakan tidak lagi mampu terlihat bekas putih lembaga yang mengatasnamakan rakyat tersebut.
Saya tidak terlalu suka dengan statement yang men-generalisir sesuatu. Bahwa kebanyakan atau malah hampir semua institusi tak lekang dari KKN adalah benar. Akan tetapi saya yakin bahwa tidak semua orang di dalamnya demikian.
Stereotip negatif itu bagi saya sangat berdampak buruk justru untuk perbaikan lembaga itu ke depan. Kenapa?
Jika semua orang menjadi ‘korban’ stereotip negatif tersebut, semua orang akan memiliki mindset bahwa institusi itu kotor, tidak berguna, hanya menjadi pembeban rakyat, dan aneka pandangan negatif lain yang menggiring tidak ada seorang baik pun yang mau memasukinya. Hal ini juga berdampak besar bagi kelanggengan perilaku korup itu sendiri karena jika semua setuju meniadakan lembaga yang berfungsi sebagai pengawas atau penindak hukum, jadilah negeri kita negara bebas hukum. Bebas hukum sebebas-bebasnya.
Maukah kita hidup di dunia rimba di mana tidak ada peraturan di dalamnya? Manusia mungkin menjadi seperti hewan atau lebih buruk dari itu. Saling menindas, menjatuhkan, bahkan saling melenyapkan satu sama lain. Tak ada lagi ketenteraman dalam hidup.
Betapa besar peran sebuah pengawasan dalam hidup kita. Ia bak alarm yang membuat kita teringat saat lupa. Membuat manusia berhati-hati dan rendah hati dalam hidup di dunia. Sejatinya manusia hanyalah penumpang sementara di dunia ini. Sewaktu-waktu Sang Pemilik berhak menurunkan siapa yang dikehendaki-Nya turun dari tumpangan itu.
Kamera CCTV adalah sebuah alat ukur kecil kejujuran kita. Ada atau tidaknya CCTV buatan manusia,toh Allah selalu mengawasi tindak-tanduk kita setiap waktunya.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15545/cctv-tercanggih/#ixzz1aed10hHh

saat ketawa, dont forget to sad


Sejarah mengenalnya dengan nama Muhammad Ibnu Sirin al Anshary rahimahullah, seorang ulama tabi’in yang mulia. Kualitas iman dan ilmunya tidak lagi diragukan, kemampuannya mentakwil mimpi berdasarkan nash-nash shahih menjadi kelebihannya yang populer, kedalaman ilmunya mengenai takwil mimpi dapat kita nikmati pada kitabnya yang berjudul Tafsirul Ahlam. Dan hal ini diakui pula oleh ulama-ulama kibarpada zamannya.
Tapi ada pelajaran lain yang dapat kita petik dari ulama yang mulia ini, Dr. Aidh Abdullah al Qorni dalam salah satu bukunya, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Pesona Cinta’ mengutip pernyataan seorang ulama tentang Ibnu Sirin; Muhammad Ibnu Sirin kata Al Qorni, adalah seorang ulama yang senang bercanda, bahkan sering pula bercandanya menyebabkan dirinya dan orang-orang yang mendengar tertawa terbahak. Tapi di sisi lainnya Ibnu Sirin adalah seorang yang mudah menangis, sering beliau terisak ketika membaca Al-Qur’an dalam munajat-munajat malamnya.
•••
Belakangan, bercanda dianggap cara yang paling efektif untuk berkomunikasi. Dengan bercanda kesalahan dianggap sesuatu yang lumrah dan selalu termaafkan. ‘Sengketa hati’ jarang hadir dari aktivitas bercanda. Bahkan kini, bercanda menjadi komoditi dagang yang favorit di stasiun-stasiun TV. Tapi, berkaca pada Muhammad Ibnu Sirin rahimahullah selayaknya di tengah gelak tawa, kita sisipkan hati dan pikiran kita untuk bertafakur dan bertaqarub kepada Allah. Jangan sampai seringnya tertawa membuat kita lupa betapa nikmatnya menangis tersedu kepada Allah.
•••
Ada ibrah menarik pula yang kita dapatkan dari sahabat mulia, ‘Ali bin Abi Thalib radiyallahu ‘anhu. Sahabat yang alim ini dikenal periang dan suka berkelakar. Hal ini juga yang disifatkan Umar bin Khathab kepada ‘Ali. Suatu saat menjelang wafatnya Umar bin Khathab memberikan penilaian pada keenam calon penggantinya, termasuk ‘Ali. Imam az Zuhri meriwayatkan kejadian ini sebagaimana diuraikan oleh Ibnu Abil Hadiid dalam kitab Syarh-nya. Setelah menyifati Zubair ibn al Awwam, Thalhah ibn ‘Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Maka tibalah saatnya ‘Ali. Umar menghadap ke arah ‘Ali, kemudian berkata, “Dan adapun engkau ‘Ali, Demi Allah seandainya bukan karena unsur kelakar dalam dirimu, niscaya engkau bisa membawa mereka pada tujuan yang terang dan kebenaran yang jelas ketika engkau memimpin mereka, sayangnya, mereka takkan mau kau bawa ke sana. Mereka takkan melakukannya.”
Begitulah, banyaknya bercanda membuat Umar enggan memilih ‘Ali sebagai penggantinya.
•••
Tapi, ada kisah lain dari seorang ‘Ali yang penuh hikmah. Untuk itu kita simak apa yang disampaikan oleh Dhirar ibn Dhamrah al Kinani (salah seorang teman dekat ‘Ali pada perang di Shiffin) pada Mu’awiyah tentang ‘Ali. “ ’Ali itu, demi Allah adalah jauh pandangannya dan teguh cita-citanya. Beliau selalu membelakangi dunia dan kemewahannya, selalu menyambut kedatangan malam dan kegelapannya. Aku bersaksi,” lanjut Dhirar “Bahwa aku telah melihatnya dalam keadaan yang sangat mengharukan. Ketika itu, malam telah menabiri alam dengan kegelapannya. Adapun beliau masih duduk di mihrabnya, menangis terisak seperti ratapan orang yang sedang patah hati. Beliau terus bermunajat pada Allah mengadukan berbagai hal. Dia berkata pula pada dunia, “Hai dunia! Menjauhlah dariku! Mengapa engkau mendatangiku? Tak adakah orang lain untuk kau perdayakan? Adakah kau sangat menginginkanku? Engkau tak mungkin dapat kesempatan mengesankanku! Tipulah orang lain, aku tidak memiliki urusan denganmu! Aku telah menceraikanmu tiga kali. Kehidupanmu singkat, kegunaanmu kecil, kedudukanmu hina, dan bahayamu mudah berlaku.”
Dhirar pun duduk, dia meratap. Mendengar ratapan itu, tangis Muawiyah makin tak tertahan. “Demi Allah”, kata Muawiyah “Memang benarlah apa yang engkau katakan tentang ayah si Hasan itu.”
•••
Begitulah para ‘alim mengajarkan pada kita, di tengah kelakar dan candaannya, mereka tidak pernah lupa untuk menangis meratap kepada Allah. Karena seperti yang disampaikan oleh ‘Ali sendiri, “Tidak ada mata yang menangis, kecuali ada hati yang hidup di belakangnya.”


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15187/di-tengah-tawa-jangan-pernah-lupa-untuk-menangis/#ixzz1aec2nguz

back to school and dakwah kampuz


Alhamdulillahirobbil ‘alamin, yang telah mengaruniakan kepada kita nikmat yang tak mampu kita menghitungnya, iman, Islam, sehat, ukhuwah, dan tentunya kesempatan untuk bergabung dalam dakwah. Semoga kesemua itu dapat senantiasa kita syukuri dalam lisan maupun perbuatan kita, karena hakikatnya bukan dakwah yang butuh kita, namun kitalah yang butuh dakwah (Al Maidah: 54).
Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Qudwah Hasanah, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam, beserta para sahabat, keluarga serta orang-orang beriman di manapun mereka berada, yang tetap istiqamah berpegang teguh kepada tali agama Allah dan tidak bercerai berai.
Sering di beberapa pertemuan yg pernah ana ikuti bersama para alumni Rohis yang telah menjadi mahasiswa dan aktif dalam kegiatan di kampusnya, beberapa di antara mereka berkonsultasi terkait sulitnya memposisikan diri, antara kewajiban mereka  terjun dalam dakwah kampus, dengan keterlibatan mereka dalam dakwah sekolah, karena tidak jarang mereka berada pada posisi di mana tenaga mereka sama-sama dibutuhkan di kedua tempat tersebut.
Hal ini sering menjadi buah simalakama bagi mereka, di satu sisi mereka tentunya ingin meng-upgrade kemampuan dan wawasan mereka ditempat baru mereka yaitu kampus sebagai Aktivis dakwah Kampus (ADK), namun di sisi lain mereka juga masih memiliki kewajiban untuk menjaga keberlangsungan dakwah di sekolah mereka sebelumnya sebagai Aktivis Dakwah Sekolah (ADS).
Oleh karena itu, para ADS yang juga ADK hendaknya memperhatikan hal-hal berikut;
  1. Belajar dan terus belajar untuk mampu mengelola waktu mereka sehingga setiap kegiatan sudah memiliki waktunya masing-masing, karena sebagaimana sebuah ungkapan: ”Al wajibatu aktsaru minal awqot.” Kewajiban yang kita miliki-sebagai seorang aktivis dakwah- jauh lebih banyak daripada waktu yang  kita punya.  Kewajiban mereka bukan hanya aktif dalam dakwah kampus maupun sekolah, namun mereka juga punya kewajiban yang tidak kalah pentingnya yaitu belajar untuk masa depan mereka, serta berbakti kepada kedua orang tua, jangan sampai kesibukan dalam dakwah melalaikan mereka dari belajar dan menyelesaikan studi dengan baik, serta jangan sampai kesibukan dalam dakwah justru menjadikan keluarga mereka –pihak yang seharusnya menjadi objek pertama dalam dakwah mereka- sebagaimana dicontohkan Rasulullah- malah membenci aktivitas dakwah yang mereka kerjakan lantaran seringnya mengabaikan hak-hak keluarga. Maka mempelajari fiqih prioritas menjadi menu yang wajib bagi setiap aktivis dakwah yang diberikan banyak amanah.

  2. Berkoordinasi dengan qiyadah di kampus maupun di sekolah, untuk menemukan solusi terbaik – win win solution – sehingga tidak ada satu amanah pun yang terlalaikan. Baik pihak qiyadah di kampus maupun di sekolah hendaknya juga memperhatikan masalah seperti ini, mampu melaksanakan mapping anggotanya dengan baik sehingga permasalahan bentrok amanah ADS/ADK bisa diminimalisasi sedemikian rupa. Di beberapa sekolah dan kampus ada yang memiliki semacam alur pembinaan dakwah sekolah/kampus, sehingga mampu menempatkan para ADS/ADKnya sesuai dengan tingkatan dan kemampuannya masing-masing. 

  3. Tentunya kita berharap juga pada level kepemimpinan  yang lebih tinggi turut memberikan perhatian atas masalah ini, sehingga semua lini. Semua wajihah dalam dakwah bisa berjalan dengan baik. Hal yang mungkin bisa dilakukan adalah mengadakan pertemuan antara qiyadah dakwah kampus dengan qiyadah dakwah sekolah sehingga dari pertemuan tersebut dapat tersinergikan antara ‘amal-‘amal dakwah kampus dengan dakwah sekolah karena seringkali pertemuan hanya terbatas pengelola dakwah kampus saja atau pengelola dakwah sekolah saja.

  4. Perlu adanya kearifan sikap dari semua elemen dakwah, bahwa mereka para ADS/ADK adalah jiwa-jiwa yang masih harus terus dijaga, mereka sedang berupaya menuju kearah kedewasaan dalam bersikap dan bertindak, sehingga pada akhirnya mereka benar-benar siap untuk ‘fight’ meskipun mereka dalam kesendirian dan kesibukan yang begitu banyak.

  5. Yang paling utama adalah bahwa ADS/ADK bekerja hanya karena Allah, maka eratkanlah hubungan dengan Sang Pemilik jiwa, karena tanpa kehendakNya, kita tidak mungkin mampu bekerja dalam ‘amal-‘amal dakwah. Bahkan bisa jadi kesibukan dalam dakwah yang tidak dibarengi dengan kesibukan kita mendekatkan diri kepadaNya, hanya akan menjadi sebab futurnya seseorang dari jalan dakwah, kemudian akhirnya mundur perlahan-lahan. Semoga Allah menjaga kita untuk senantiasa istiqamah dijalanNya, dan membimbing kita untuk senantiasa mampu mengoptimalkan waktu yang kita miliki untuk menyelesaikan setiap amanah yang diberikan kepada kita.

Demikianlah sedikit pemikiran yang bisa kami tuangkan semoga memberikan manfaat bagi siapapun yang membacanya kebenaran hanya milik Allah, maka janganlah kita ragu untuk mengambilnya. Namun jika ada kesalahan dan kekurangan mohon dibukakan pintu kemaafan, dan silakan untuk dikritisi dengan sebaik-baiknya, karena kami hanyalah makhluk yang lemah dan penuh kesalahan.
Wallahu a’lam bishshawab…

Kamis, 13 Oktober 2011

jilbab...!!! nyaman banget deh... ^_^


Dalam acara kumpul keluarga besar, di malam hari menjelang tidur, Nay tetap mengenakan jilbabnya, bahkan tetap berpakaian rapi tanpa mengurangi apapun yang melekat pada dirinya. Di sisi lain, saudara-saudaranya, tantenya, budenya, atau kakak adiknya yang juga memakai jilbab telah membuka jilbabnya dan memakai pakaian siap tidur.
“Kenapa pas mau tidur jilbabnya nggak dibuka, kan disini saudara semua?”
Saudara, tapi kan belum tentu mahram.
Atau pertanyaan lain “Nak, kamu kenapa tetap pakai kaos kaki sih kalau di rumah saudara?”
Hmmm ...
“Hati-hati jangan terlalu fanatik belajar agamanya Mbak”
Setiap ada tamu mendadak di rumah, atau ketika Ibu meminta bantuan beli sesuatu di warung, maka Ney selalu butuh waktu sejenak, untuk memakai rok panjang, jaket, kerudung kaos, dan kaos kaki. Seperti berlebihan, karena biasanya Ibu hanya menyambar jilbab ketika ke warung, atau bahkan lupa memakai jilbab ketika menyapu di halaman rumah.
Perkataan Ney ke Ibunya, “Bu, kalau ke depan rumah dipakai jilbabnya.”
“Kan ke depan aja, ga ada siapa-siapa kok.”
“Itu Bu, ada tetangga yang Bapak-bapak.”
“Ah, ga apa-apa itu mah. Beliau juga ga akan ngapa-ngapan.”
Sesekali Ibu Ney yang balik bertanya ketika Ney bersiap merapikan seluruh pakaiannya sebelum pergi, “Ke warung aja ngapain pake kaos kaki sih?”
“Kaki kan juga aurat Bu.”
“Aiih, warung kan deket, yang liat juga ga banyak”
Saat acara pernikahan saudara, Ney mendapat peran sebagai penerima tamu. Seperti orang-orang lain yang bertugas, Ney juga dibantu oleh seorang perias dalam mengenakan pakaian dan jilbabnya. Berbagai assesoris disiapkan, agar jilbab yang dikenakan tetap terlihat modis dan baju yang dikenakan pun terlihat hiasannya.
“Tante, ini jilbabya saya pakai sendiri ya, nanti tante yang hias bagian atasnya saja,”
pinta Ney sebelum tante perias memakaikan jilbab yang pastinya akan tercekik di bagian leher.
“Oh silahkan mba.. Eh ini kenapa dilapisin jilbabnya?”
“Ini kan tipis jilbabnya tante, saya pakainya panjang menutup dada.”
“Oh, kalau sampai menutup dada sayang nanti hiasan di baju bagian atasnya ga kelihatan”
“Gak papa tante, saya biasa pakai begini...”
Tante perias jilbab pun masih berusaha merapikan jilbab yang telah dikenakan Ney seperti biasa tanpa hiasan. Beruntung Ney telah mempersiapkan jilbab lapis sendiri, jilbab lain untuk hiasan dan perlengkapan lainnya sehingga tante perias tidak banyak protes saat Ney meminta jilbabnya tetap terulur hingga ke dada.
Masih banyak potret-potret yang lainnya yang kadang memiliki berbagai pandangan dari orang-orang sekitar. Ketika seorang muslimah yang berhijab ingin sempurna menutup auratnya, ingin menyeluruh menjalankan ajaran agamanya, tetapi justru dianggap fanatik. Hal tersebut terjadi karena pemahaman setiap orang atas ajaran agama ini belum menyeluruh, sehingga pola pikir yang ditimbulkan pun berbeda.
Padahal setiap aturan islam terangkum jelas, baik dalam Al-Qur’an maupuh hadis. Selain itu buku-buku Islam yang membahas aturan islam secara spesifik pun mudah didapatkan di toko-toko buku. Namun sayangnya, berbagai pengetahuan itu kalah populer dengan perkembangan mode dan budaya yang ada saat ini, sehingga masyarakat melihat yang benar adalah yang kebanyakan terlihat di masyarakat, dan yang sedikit itu masuk dalam kategori fanatik atau berlebihan dalam menjalankan ajaran agama.
Fanatik lebih dekat konotasinya dengan hal yang negatif, sedangkan kaafah atau menyeluruh diperintahkan oleh Allah melalui Al-Qur’an yang pasti bermakna positif.
"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh," (QS. Al-Baqarah: 208).
Pada awal masa peredarannya di Indonesia, jilbab benar-benar berfungsi sebagai penutup aurat. Bentuknya sederhana dan penggunanya pun masih sedikit karena pada masa itu pelarangan jilbab masih terjadi di Indonesia. Jika kita tengok pada masa itu, maka jilbab yang banyak dikenakan adalah jilbab yang sesuai syariat, menutup dada, tidak transparan karena kainnya tebal, dan tidak beragam bentuknya.
Jilbab pada masa itu bukan ada karena perkembangan trend dalam berbusana, tapi jilbab pada masa itu adalah simbol perjuangan. Setelah jilbab dibebaskan penggunaannya, muslimah yang berjilbab pun semakin bertambah jumlahnya. Tak ada lagi kekhawatiran mereka tentang diskriminasi yang ada, karena jilbab telah diterima dengan baik.
Hal tersebut memberi peluang berbagai pihak untuk menggunakan kreatifitasnya, sehingga model jilbab pun semakin banyak. Saat ini berbagai model hadir untuk memenuhi kebutuhan muslimah tetapi sayangnya tidak semua trend jilbab yang ada sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, banyak juga jilbab yang hanya digunakan sebagai busana sehingga hanya dikenakan saat berpergian jauh, saat acara-acara penting, atau saat pengajian.
Sementara saat di rumah, ke warung, atau mengantar anak ke sekolah, dengan santainya tak memakai penutup aurat itu. Seakan jilbab mengalami pergeseran makna, dari kewajiban sebagai penutup aurat menjadi busana agar terlihat semakin menarik. Setelah trend jilbab gaul marak, maka jilbab-jilbab syar’i yang cenderung lebih konservatif pun dianggap moderat. Jilbab panjang cenderung dianggap tidak modis dan identik dengan fanatisme.
Pertama, sebenarnya simpel, bahwa tujuan menutup aurat adalah menghindari terlihatnya bagian tubuh secara langsung ataupun tidak langsung. Maka, menutup aurat dengan jilbab adalah dengan kain yang tidak transparan, kain yang menutup hingga ke dada, dan tentunya tidak ketat agar tak terlihat bentuk tubuhnya. Simpel, tapi terkadang yang sesimpel itu belum terinternalisasi pada seluruh muslimah.
Kedua, Esensi menutup aurat adalah menutupnya dari orang-orang yang tidak termasuk dalam mahram. Tidak semua saudara laki-laki dalam keluarga besar termasuk mahram, misalnya ipar atau saudara sepupu. Orang-orang yang termasuk mahram tercantum dalam Qur’an Surat An-Nur:31. Jadi kepada orang-orang selain mahram tersebut, kita sebagai muslimah wajib menutup aurat.
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung," (QS. An-Nur:31).
Ketiga, tentang jilbab adalah tentang kewajiban yang sudah tidak bisa ditawar, maka menjaganya adalah menjaga kehormatan dan izzah sebagai seorang muslimah. Maka, ketika persoalan jilbab harus disandingkan dengan persoalan lain seperti pekerjaan, penampilan, atau eksistensi diri, jilbab harus tetap menjadi perhatian utama. Bagaimanapun kondisinya, usahakan jilbab syar’i tetap melekat pada diri kita.
Saat ini, model jilbab yang syar’i tapi tetap modis juga telah banyak beredar sehingga tak perlu khawatir ketika harus tetap tampil syar’i saat acara-acara pernikahan atau acara penting lainnya. Bahkan ketika di luar negeri yang memiliki musim panas, jilbab syar’i tetap dipertahankan oleh muslimah yang ingin kaafah menjalankan ajaran agamanya.
“Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatinya bersamamu,” (HR. Tirmidzi).
Di luar respon negatif seperti pada potret-potret sebelumnya, masih ada respon positif dari mereka yang jujur dengan ajaran agamaNya. Respon positif ini tak lepas dari benih-benih pemahaman yang telah ditanamkan sebelumnya.
Saat menjahit baju untuk sebuah acara pernikahan saudara, Ney tetap berusaha agar kebaya yang ia kenakan tidak seperti kebaya pada umumnya yang dibuat pas dengan ukuran tubuh. Maka ia sangat berpesan pada Ibu penjahit untuk melebarkan ukuran bajunya.
“Bu, ini jahitnya jangan ngepas badan ya, tolong dilebihkan di bagian pinggangnya.”, pinta Ney pada seorang penjahit yang sedang mengukur badannya.
“Ooh gitu ya Mba, tapi kalau kebaya kurang bagus kalau lebar,” jawab Ibu penjahit.
“Yang penting ga ngebentuk badan Bu, jadi dilebihin saja di sampingnya. Untuk panjang ke bawah dibuat sampai lutut juga Bu..." tutur Ney.
“Iya ini Bu, dia ga mau pakai baju yang ngepas-ngepas. Sukanya yang lebar," tambah Ibunda Ney.
“Iya, sih Bu, harusnya yang benar memang begitu kan. Dididik bagaimana sih Bu, ini anaknya bisa salihah begini ...”
Ya, penjahit itu jujur bahwa sejatinya pakaian yang sesuai syariat tidak ketat dan tidak memperlihatkan lekukan badan. Walau biasanya ia menjahit sesuai dengan ukuran badan yang pas agar terlihat cantik, tapi ia tetap mengakui bahwa di luar kecantikan itu ada hal yang lebih tinggi, aturan syariat agama.
Bukan, yang kita cari memang bukan respon atau tanggapan dari orang-orang sekitar kita. Karena pandangan manusia tak ada artinya dibandingkan pandangan Allah. Namun, tentunya menjadi tugas kita untuk mengajarkan kebaikan pada orang-orang di sekitar kita, agar pemahaman mereka tentang agama ini tidak setengah-setengah. Agar setiap muslimah di sekitar kita mengerti bagaimana cara menjaga auratnya dengan sempurna dan dapat menjaga izzahnya dimanapun mereka berada.
Muslimah salehah, jangan takut dianggap fanatik, jika kita yakin bahwa yang kita jalani adalah hal yang benar. Muslimah cerdas harus mengambil langkah yang tepat saat dianggap berlebihan dalam menjalani ajaran agama, bukan dengan meninggalkan prinsipnya atau bahkan merasa malu atau minder saat dianggap minoritas, tetapi siap menebarkan benih-benih pemahaman yang sebenarnya dengan cara yang tepat.
Ketika kita meyakini sesuatu hal, maka kita akan memegangnya dengan sunguh-sungguh dan pastikan saja hal yang kita pegang saat ini sesuai dengan dua pedoman utama agama kita, yaitu Al-Qur’an dan Hadis.