Senin, 23 Desember 2013

bercerita tentang fb ?? WhatAboutYou?

FB itu suka-suka. . .
Suka-suka narsis, , ,
Suka-suka mengeksplor diri. . .
Suka-suka mengumpat, , ,
Suka-suka menyindir. . .
Suka-suka berkata-kata apapun.
Semuanya serba suka-suka. . .
Di FB itu, orang beradat dan tak beradat mudah dibedakan. Orang-orang suka dipuji-puji. Komentar paling banyak adalah tentang joke-joke tak berarti. Jika tentang nasehat maka yang kita lihat cuma satu dua komentar.
Di FB semua orang tak tahan ingin menceritakan dirinya. everything is about me, begitulah kukira. Paling tidak meski tak melulu begitu, sekali dua kali pasti terjebak dalam nuansa keriyaan atas kebahagiaannya. Di FB orang-orang yang tak suka dinasehati. menjadi jatuh harga dirinya. Ini bukan masalah kejahilan diri yang menjadi perbincangan, tapi murni masalah harga diri.
Hei, jangankan di FB. berbicara face to face saja  lebih seringnya kita membicarakan diri sendiri. Tak suka jadi pendengar. Asyik bertutur dan membanggakan diri saja.
Di FB wajah cantik dan gagah bertebaran. Soalannya adalah agar orang berdecak kagum atas kecantikan dan kegantengan kita atau apa? tak disangka kita telah membuat banyak mata berzina. Puaskah kita? Puaskah kita?
Di FB seringnya kita lupa bahwa hijab telah tercampak jauh. Privacy menjadi menu publik.
Di FB semua orang ingin jadi cahaya, tapi sayangnya tak sedikit yang hanya merasa bercahaya saja, padahal redup tak bersinar.
Oh ya, di FB banyak orang berdoa dengan nada sendu. Berdoa tak perlu perantara, nasehat seorang adik suatu ketika. Aku mengganguk mahfum. Bukankah tak perlu berdoa di dindingnya seperti doa orang-orang Yahudi di dinding ratapannya.
Di FB, suami istri berkomunikasi tak tau batas. Meskinya mereka tak membawa urusan rumah ke halaman umum yang dinikmati bersama oleh orang-orang. Tapi meraka menampik, ini masalah hak asasi.

Menulis

Menulis ide, itu mungkin mudah. Tapi ide untuk menulis yang terasa sangat sulit dimunculkan. eh, betulkah? kadang bisa jadi berkebalikan. atau bahkan keduanya sangat sulit. depend on yourself...
Jadi ingat motivator-motivator dalam bidang kepenulisan, Jonru, mbak helvi, Asma nadia, dan sederetan penulis-penulis yang menulis dengan hati. Menulis dengan hati. Mungkin inilah inti dari motivasi dan kesinambungan mereka menghasilkan karya-karya menggugah jiwa.
Ulasan ini bukanlah tentang motivasi menulis, sebab penulis masih sering menjadikan menulis sebagai hobi, bukan kewajiban. Tapi ini tentang sebuah komparisasi, lintas masa (bener gak ya istilahnya?)
Teringat juga perjuangan para generasi awal memulai membangun pondasi kesusastraaan islam di Indonesia ini. Bersemangat, penuh vitalitas dalam da'wah bil kalam mereka.
Terlihat begitu heroik mozaik kisah-kisah pada penulis muslim generasi dulu. terlihat dari pesan apa yang tersurat dan tersirat dalam tulisan-tulisan mereka. dalam narasi fiksi mereka, dalam ulasan-ulasan opini. Bolehkah kita sedikit sedih dengan perkembangan sastra Islam yang sedikit banyaknya telah menenggelamkan warna tulisan yang begitu orisinil yang dibangun oleh penulis terdahulu?
Penulis masih sempat menemukan dan membaca tulisan-tulisan di majalah Islah yang waktu kecil pernah dibelikan ayah. Ulasan-ulasan itu mungkin jika kita temukan sekarang akan teramat membosankan untuk dibaca oleh mayoritas kita, sebab perkembangan yang teramat cepat membuktikan juga terhadap perubahan bahasa generasi. Tak hanya perubahan bahasa, tetapi muatan yang dibawa semakin ringan dan diringan-ringankan. Anehnya adalah, meski masih kecil dan sama sekalli belum memahami penuh apa yang dibaca dulu, justru penulis lebih mengingat paparan-paparan kisah di majalah-majalah dulu ketimbang sekarang.

sekedar menulis *-*

bismillah . . .
pagi sob . . .
mulai menulis lagi di pagi ini,
menulis apa yang terasa, , , ehm :)

eng ing eng . . .
jreng,,jreng,,jreng....

mengingat kembali memori ke 3 tahun yang lalu, ketika masih "jadul-jadul" masa kampus,,
ahaaa. . . masa-masa ketika kurang mengerti cara buat blog ini, minta petunjuk sama senior bagaimana bikinnya, alhasil sekarang saya udh bisa buat blog sendiri, ngisi hiasan "rumah" sendiri secara otodidak, walaupun belum bagus-bagus amat seh, tapi lumayanlah untuk dikonsumsi secara pribadi.

Sabtu, 07 Desember 2013

Bersih-bersih



Hampir satu jam saya merapikan laci lemari pakaian dan rak buku. Berbagai kertas bekas surat menyurat organisasi, pamflet, undangan rapat, print out cerpen dan aneka kertas lainnya, saya kumpulkan dalam satu kantong plastik. Kertas-kertas itu siap diungsikan ke tempat sampah. Heran, bagaimana bisa saya menyimpan kertas-kertas ini selama setahun lebih ????

Sebenarnya ada rasa sayang membuang kertas-kertas itu. Kenapa ? Sebab mereka masih bisa dipakai untuk menulis. Tapi sekarang saya sudah punya komputer atau lepi yang lebih praktis kalau langsung mengetik. Namun kertas-kertas itu seperti berteriak “Jangan buang kami,, jangan buang kami,. Simpanlah kami. Kau pasti membutuhkan kami suatu saat nanti.” Saya trenyuh mendengarkan suara-suara yang tak pernah ada tersebut.

Saya memang suka mengumpulkan kertas. Entah kenapa, sering ada perasaan, bahwa suatu hari saya akan membutuhkan materi yang tercetak di kertas itu. Jadilah berbagai kertas tak beraturan menghuni rak dan lemari. Semakin hari semakin banyak, sedangkan saya tak kunjung menemukan manfaat dari kertas-kertas tersebut.

Berbeda saat saya masih kuliah dulu. Saya sering mengumpulkan kertas-kertas apapun jenisnya untuk menulis. Kertas bekas undangan, pamflet acara kampus, soal-soal kuis dan semesteran, kertas buram corat-coret saat semesteran, laporan kkn, laporan PL dan berbagai kertas lainnya. Di tempat wisma saya dulu punya rak khusus untuk menampung kertas-kertas itu.

Saya memanfaatkan bagian kertas yang masih kosong untuk menulis. Ya, saya menulis di atas kertas-kertas bekas itu dimanapun dan kapanpun saya mau. Terutama bila mata kuliah yang saya ikuti sangat membosankan. Uraian dosen seperti dongeng jaman dulu yang selalu dimulai dengan “pada suatu masa hiduplah...” Jadi daripada mengobrol dengan teman dan diusir dari ruang kuliah, lebih baik menulis saja.

Jika ada waktu ke rental komputer atau ke wisma akhwat yang punya komputer, barulah tulisan di kertas itu saya ketik ulang, sekaligus memperbaiki isi dan bahasanya,hehe..  Ketika saya jatuh sakit sekitar pertengahan 2010, kertas-kertas itulah yang menemani, menghibur, dan menasehati saya, kenapa kamu tidak jadi penulis saja? Kertas-kertas usang itulah yang pada akhirnya menggugah dan membuat yakin bahwa saya bisa jadi penulis.

Sayang, sekarang saya sudah meninggalkan kebiasaan itu. Lebih efektif dan efisien menulis langsung di komputer. Bisa langsung dicetak ataupun disalin ke blog. Saya harus membuang kertas-kertas tersebut. Mungkin akan lebih bermanfaat jika tukang sampah memungut kertas-kertas itu. Tapi...

“Jangan buang kami.”

“Kami masih bisa digunakan.”

Memang bisa.

“Bisa dibuat bubur kertas dan jadi aneka kerajinan tangan.”

Saya punya banyak buku agenda. Maaf saya tetap pilih membuang kalian wahai kertas.

            Saya meninggalkan kertas-kertas itu di samping rumah. Membiarkan tukang sampah memungut mereka, dan membawanya ke tempat pembuangan akhir sampah. Orang lain akan lebih memetik manfaat jika kalian berada di sana. Slah satunya, para pemulung itu.

#NabZah  ^-^


Untukmu Teman "Brothers"

Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau mengulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ikatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan
Bersimpul padu
Kenangan bersamamu
Takkan ku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa
Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Munkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan
Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janjinya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasihnya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah derita hadirlah cahaya

Kerinduan untuk teman2 tercinta 07