Suka-suka narsis, , ,
Suka-suka mengeksplor diri. . .
Suka-suka mengumpat, , ,
Suka-suka menyindir. . .
Suka-suka berkata-kata apapun.
Semuanya serba suka-suka. . .
Di FB itu, orang beradat dan tak beradat mudah dibedakan. Orang-orang suka dipuji-puji. Komentar paling banyak adalah tentang joke-joke tak berarti. Jika tentang nasehat maka yang kita lihat cuma satu dua komentar.
Di FB semua orang tak
tahan ingin menceritakan dirinya. everything is about me, begitulah
kukira. Paling tidak meski tak melulu begitu, sekali dua kali pasti
terjebak dalam nuansa keriyaan atas kebahagiaannya. Di FB orang-orang
yang tak suka dinasehati. menjadi jatuh harga dirinya. Ini bukan masalah
kejahilan diri yang menjadi perbincangan, tapi murni masalah harga
diri.
Hei, jangankan di FB. berbicara face to face saja lebih seringnya kita membicarakan diri sendiri. Tak suka jadi pendengar. Asyik bertutur dan membanggakan diri saja.
Di
FB wajah cantik dan gagah bertebaran. Soalannya adalah agar orang
berdecak kagum atas kecantikan dan kegantengan kita atau apa? tak
disangka kita telah membuat banyak mata berzina. Puaskah kita? Puaskah
kita?Di FB seringnya kita lupa bahwa hijab telah tercampak jauh. Privacy menjadi menu publik.
Di FB semua orang ingin jadi cahaya, tapi sayangnya tak sedikit yang hanya merasa bercahaya saja, padahal redup tak bersinar.
Oh ya, di FB banyak orang berdoa dengan nada sendu. Berdoa tak perlu perantara, nasehat seorang adik suatu ketika. Aku mengganguk mahfum. Bukankah tak perlu berdoa di dindingnya seperti doa orang-orang Yahudi di dinding ratapannya.
Di FB, suami istri berkomunikasi tak tau batas. Meskinya mereka tak membawa urusan rumah ke halaman umum yang dinikmati bersama oleh orang-orang. Tapi meraka menampik, ini masalah hak asasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar