sahabat,
pernahkah kita merasa?
selama ini yang kita lakukan adalah memperindah topeng, kata-kata yang memukau, susunan kalimat yang indah merekah, photo indah yang direkayasa...
hingga tersadar bahwa itu bukanlah kita yang sbenarnya.
jauh,,jauh sekali..
orang menganggap kita sempurna, karena Allah masih menutup aib dan dosa kita
kita sejati adalah yang sering alpa, yang bertabur noda dan dosa, yang janrang ingat padaNya, yang sedikit tuk bersyukur dgn rahmayNya.
padahal....
semua kan diminta pertanggung jwabananya,,
waktu luang? dengan apa kita isi harta titipanNya? bagaimana cara mendapatkan dan kemana saja dikeluarkan?
masa muda?untuk berkarya atau foya-foya..
yahhh,,,
anadaikan hidup ini hanya sampai di liang lahat
tanpa ada hari kebangkitan dan penghisaban, silahkan mengambil hak orang lain,,
sikut sana-sikut sini, bermaksiat sekenyangnya..
tapi....
hidup buklan di sini saja sahabat,,
rumah kita sejatinya bukan disini
namun mengapa masih banyak yang lupa atau melupaknya?setiap manusia disibukkan dengan urusan dunianya berlomba pamer harta,,
sang ayah membanggakan anaknya yang lulusan luar negeri itu..
sang ibu mempertontonkan kecantikan anaknya yang bak artis itu,,
serasa mampu menciptakan.Qur'an menjd bacaan asing,
terkalahkan oleh tayangan televisi yang membutakan hati atau lenyap senyap dimakan band-band ternama yang naik daun..
shalat tanpa makna..tanpa jiwa..
silaturrahim hanyalah siloka setiap idul fitri
majelis ta'alim dipadati ibu-ibu renta
yang muda asyik berfoya dgn kawan lama..
Allahu ya Rabb..
benarlah tanda-tanda ini
dan sahabat..
semakin sedikitlah kita jumpai org yang kuat imanya,indah akhlaknya, halus budi pekertinya, jihad jalan hidupnya, dakwah pekerjaanya, tadabbur hobinya, murottal qur'an sehari-harinya..
Rabb..
pilihlah kami
tuk menjadi org yg sedikit itu,,
yang memurnikan ketaatan hanya kepadaMu,
yang tak tak pernah terpengaruh dgn puji dan caci
yang tak pernah jera menunjukan indahnya islam.
Ya Ghoffur,ampuni dosa kami
Ya'Alim,,ajari kami dgn ilmuMu
Ya Rozzzaq,berkahi rizki kami
Ya Lathif,,lembutkan hati kami
Ya Aziz..kuatkan izzah kami..
Amin Ya Robbal'Alamin
kunci kerendahan hati adalah mengenal siapa diri anda
Kamis, 27 Januari 2011
Menghilangkan Kesan Ekslusif......
Menghilangkan Kesan Eksklusif
Bagaimana caranya agar menghilangkan eksklusifitas antara kader dakwah dengan objek dakwah. Hal ini sangat menghambat keberterimaan dakwah di massa kampus ?
Eksklusif atau terbatas bagi sebagian orang saja. Coba Anda berpikir terlebih dahulu mengapa hal ini bisa terjadi, mengapa eksklusifitas ini menjadi sebuah trademark tersendiri bagi aktifis dakwah. Berbagai pendapat sering terdengar seperti kuper, tidak gaul, sok suci, kaku, tidak bisa menerima perbedaan, tidak mau bergabung dengan kita-kita, dan sebagainya. Pertama kali tiba di kampus saya sangat merasakan kekentalan dalam hal ini. Apakah memang kader dakwah harus terasing untuk mendapat kemenangan Allah ?.
Saya berpikir, sebetulnya kader dakwah yang menjauh dari massa atau memang massa menolak kader dakwah. Pengamatan saya berlanjut sekitar beberapa pekan hingga mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa memang kader dakwah lah yang menjauh dari massa. Entah bagaimana sebab nya, kader lebih senang menyendiri dengan Qur’an ketimbang diskusi perkuliahan dengan teman-teman satu lab, kader lebih senang “kabur” dengan cepat setelah kuliah selesai untuk ke masjid ketimbang bersapa dan berbasa-basi ria dengan teman satu kelas, kader lebih senang makan sendirian atau makan dengan sesama kader ketimbang makan bersama teman-teman satu himpunan program studi. Kenyataan pahit ini harus kita terima dengan sebuah pernyataan bahwa kader belum siap berbaur dengan massa. Daya imunitas yang lemah ini justru membuat kader semakin tampak aneh dan tidak diterima. Ketidakterimaan ini membuat tidak adany kepercayaan massa terhadap kader yang membuat apapun agenda dakwah yang dilakukan tidak akan direspon positif oleh massa.
Mengapa hal ini bisa terjad?, memang dalam materi mentoring tidak ada materi khusus terkait bagaimana menjadi kader yang inklusif. Untuk menjadi kader yang inklusif kita perlu belajar di sekolah dunia, alias belajar secara mandiri. Kemampuan adaptasi dari seorang menentukan kemampuan seorang untuk berkembang dimasa yang akan datang. Saat ini kemampuan adaptasi dan bisa diterima atau bahkan memimpin di setiap kelompok masyarakat menjadi sebuah advantage yang akan menjadi poin plus bagi pihak personalia dalam menerima seorang pegawai.
Kita tidak akan berbicara tentang pekerjaan, kita akan sedikit berdiskusi tentang sejauh mana kita mengenal massa kita. Saya akan mengajukan beberapa pertanyaan yang bisa Anda jawab sendiri dan silahkan intropeksi setiap poin pertanyaan untuk kebaikan keberterimaan dakwah di Kampus Anda.
1. Apakah anda mengetahui tempat makan siang teman-teman satu kelas
2. Apakah anda mengetahui gosip atau isu yang beredar diantara teman satu program studi
3. Apakah anda mengetahui siapa saja teman satu lab anda yang akan menjadi dosen, pengusaha, politikus, atau pegawai setelah lulus ?
4. Apakah anda pernah mengikuti kebiasaan teman satu kelas dalam menghabiskan akhir pekan ?
5. Apakah anda pernah belajar kelompok atau mengerjakan tugas bersama dan anda diminta oleh mereka sebagai pemimpin kelompok dengan pertimbangan kompetensi dan kepercayaan, bukan sebagai “tumbal” belaka ?
6. Pernahkan anda memenangi pooling sebagai “terbaik”, “suami idaman”, “terpercaya”, “terasik”, atau “terfavorit” dalam pooling sederhana di kelas?
7. Apakah anda pernah diminta memimpin do’a atau imam sholat saat sedang acara syukuran ?
8. Seberapa sering teman anda yang paling tidak dekat dengan anda bercerita dan berkonsultasi masalah pribadinya kepada anda ?
9. Seberapa banyak teman anda yang bertanya masalah agama ke anda ?
10. Sejauh mana anda dibutuhkan di kelas ? ketika anda sakit berapa banyak teman sekelas anda yang meng-sms, atau menelpon, atau menjenguk anda ?
11. Seberapa banyak teman satu program studi anda yang mengetahui tempat kost anda ?
12. Apakah ketika ada acara ulang tahun atau jalan-jalan bareng satu kelas anda diajak secara khusus oleh teman anda ?
Pertanyaan ini bukan sebuah justifikasi buat Anda, akan tetapi 12 pertanyaan sederhana ini bisa menggambarkan sejauh mana kita diterima oleh teman-teman satu kelas atau satu program studi yang notabene nya adalah objek dakwah terdekat kita. saya berpendapat bahwa hilangnya eksklusifitas dari kader kita akan berdampak pada penilaian publik akan kadar eksklusifitas lembaga dakwah. Sehingga pendekatan mengurangi eksklusifitas ini akan saya paparkan dengan menangani permasalahan eksklusifitas kader.
Berpikir positif tentang objek dakwah
Yakinlah bahwa semua teman kita juga sebetulnya juga sangat mencintai Islam, akan tetapi mengapa mereka belum menjalankan dengan baik dikarenakan alasa mereka belum memahaminya, dan itu merupakan tugas kita untuk memberikan pemahaman kepada mereka untuk belajar tentang Islam. Seburuk apapun teman anda bersikap tentang dakwah, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk membencinya, siapa tau ia berkata seperti itu karena ia memang “melihat” islam yang seperti itu, bantulah ia untuk mampu melebarkan pandangannya untuk melihat sisi yang lebh luas dari Islam. Anda jangan berpikir bahwa pikiran saja tidak akan berdampak pada dakwah, anda bisa saja memanipulasi perkataan, akan tetapi Anda tidak akan bisa membohongi raut muka Anda didepan objek dakwah. Pemikiran underestimate Anda kepada objek dakwah akan membuatnya dapat menilai Anda sebaliknya, ia akan merasa bahwa ia telah diremehka, dan ini berdampak negatif untuk dakwah kita. kurangi mendengar info yang kurang sedap tentang teman Anda agar Anda terus merasa tidak berpikir salah tentang seseorang. Sebutlah Anda secara tidak sengaja mendengar salah satu teman Anda terlibat dalam kehidupan malam dan obat terlarang, secara tidak disadari pandangan Anda terhadapnya akan berubah seketika dan justru kontraproduktif bagi usaha kita untuk mendekatinya.
Hindari merasa nyaman dalam lingkungan dakwah
saya harus mengakui diri saya merasa sangat terjaga jika bersama dengan sesama kader, pesan berisikan nasehat terus berdatangan, saling mengingatkan untuk ibadah menjadi sebuah kebiasaan, pembicaraan yang ada pun seputar umat dan dakwah, tidak ada pembicaraan yang menggunjing dan rekreasi yang dilakukan sangat jauh dari hura-hura dan membuang uang. Tetapi saya merasa jika saya nyaman dan terus lebih banyak berdiam dan bersosialisasi dengan teman teman yang homogen saya menjadi seorang yang tidak berguna saja, kebermanfaatan yang bisa saya berikan sangat sedikit, dan membuat diri semakin jauh dan tidak bisa memahami objek dakwah.
Coba Anda memproporsikan kehidupan di lingkungan kader dan di lingkungan objek dakwah secara relevan, sebutlah dengan perbandingan 70% di lingkungan objek dakwah seperti di kantin, di lab, di studio, di himpunan mahasiswa, di perpustakaan atau di lapangan olahraga dan sisa waktu yang 30% digunakan untuk men-charge ulang energi di lingkungan kader yang biasanya di masjid kampus. Kita tidak boleh menganalogikan lingkungan nyaman ini sebagai sebuah bunker, akan tetapi jadilah pom bensin, dimana selama Anda masih punya energi untuk beraktifitas, Anda tidak perlu kembali. Optimalkan diri di lingkungan bersama teman-teman satu kelas.
Daya imunitas ini perlu ditingkatkan dengan vaksinasi “kepercayaan diri” dan “anti kenyamanan” sehingga kader tidak lagi steril. Kerentanan terhadap gesekan luar ini perlu dilatih sejak tingkat awal, karena untuk hal ini tidak ada materi khusus, kemampuan Anda sebagai pribadi, kemampuan individu sebagai seorang da’i diuji.
Berbaur tapi tidak melebur
Mencoba memahami objek dakwah dengan mengikuti kebiasaannya yang masih dalam batas syariah. Dengan ini Anda tidak lagi dianggap “aneh”. Pernah ada definisi apa itu orang gila atau orang aneh, yaitu orang dimana ia berbeda sama sekali dengan orang pada umunya di suatu kelompok. Sebutlah di suatu pesta Anda hanya mengenakan celana pendek dan kaos, maka Anda akan dianggap orang aneh, atau jika Anda orang baik diantara para pencuri, maka Anda lah yang akan dianggap gila. Pada kondisi ini pilihan kita hanya dua, yakni menyesuaikan atau tinggalkan kelompok ini. Dalam dakwah kampus tentu pilihan pertama coba kita ambil dengan harapan dapat membimbing pelan-pelan teman-teman ke arah yang lebih baik. Bentuk menyesuaikan ini bisa dari hal pakaian, jika pada umumnya seorang kader pria “gemar” berpakaian celana bahan dengan kemeja serta jaket hitam yang menimbulkan kesan “tua” atau “ustadz”, maka cobalah sedikit dimodifikasi agar lebih “nyambung” dengan teman-teman satu kelas, yakni paduan jeans dengan kaos berhem, atau kemeja dengan vest agar tampak lebih “metro” atau sepatu yang lebih casual. Kesan yang ditimbulkan adalah “santai”, atau “rapih”. Untuk perempuan, perlu meninggalkan kesan “angker” dari pakaian yang digunakan yang pada umumnya kader perempuan gemar bergamis, atau setelan pakaian yang gelap. Cobalah di sesuaiakan, apakah dengan padanan warna jilbab dan pakaian yang lebih cerah atau bermotif, sehingga timbul kesan “anggun”.
Selanjutnya dari sisi kebiasaan, alangkah baiknya jika kita bisa menghabiskan waktu makan dan belajar bersama teman-teman satu program studi, disana kita juga akan mulai “nyambung” jika teman-teman berbicara mengenai hal-hal yang mungkin untuk kita “tidak penting”, akan tetapi keberadaan kita disana bisa berpera sebagai da’i antara lain untuk mengingatkan agar bertutur kata baik atau mengingatkan saat shalat. Kebiasaan lain seperti jalan-jalan bersama dengan teman-teman untuk sesekali olahraga bersama, atau ke pusat perbelanjaan bisa sesekali kita ikuti, tujuannya adalah untuk menimbulkan kesan bahwa kita “benci dunia” yang membuat objek dakwah menilai kader juga manusia yang butuh kesenangan sesekali, bukan sosok malaikat.
Akan tetapi dari segala berbauran ini kita perlu tetap menjaga karakteristik kita. karakteristik dari segi pemikiran dan perkataan. Menurut hemat saya yang menjadi identitas dari kader bukanlah simbol atau penampilan fisik, akan tetapi pemikiran dan perkataannya yang bermanfaat dan berbobot. Disinilah kita bisa menanampkan kesan “bijak” dan “toleran” bagi kader dakwah kita di kampus.
by: Yusuf GAMAIS (presiden BEM ITB 08/09)
manis pahitnya dakwah
Sobat muda muslim, sebenarnya aktivitas dakwah nggak dibebankan kepada anak-anak yang udah biasa ngetem di masjid aja. Anak-anak lain, asal dia muslim or muslimah, juga punya tanggung jawab yang sama untuk mengingatkan teman lain kalo berbuat maksiat. Pendek kata, kamu yang bukan anak rohis pun, punya juga kewajiban menyampaikan Islam kepada siapa saja. Itu artinya, dakwah emang bukan spesialis anak rohis aja. Semua orang bisa dan bahkan kudu bin wajib melakukan dakwah. Nggak dikavling-kavling tugasnya.
Kadang bagi sebagian remaja, mengingatkan teman yang berbuat maksiat gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang kali yee..?). Yup, dua-duanya juga bener. Begini, dibilang gampang, emang gampang. Kita tinggal ngomong atau sekadar nulis apa yang kita nggak suka terhadap apa yang dilakukan sebagian teman-teman kita. Beres kan? Tapi kadang susah juga buat sebagian teman kita. Apa susahnya? Pas mau ngomong ngingetin teman, suka nggak enak, sungkan, dan seabreg kendala teknis lainnya. Nha lho, ati-ati tuh!
Kalo susah-susah gampang gimana? Begini, sebagian dari kita kadang susah banget untuk menjalani aktivitas ini. Masih ngukur-ngukur diri. Katanya sih, belum layak kalo harus ngingetin orang, sementara dirinya merasa masih belepotan dosa. Hmmï padahal, apa susahnya cuma ngingetin. Iya nggak? Lagian, dengan begitu kita jadi punya tanggung jawab moral. Sedikit demi sedikit bakalan tumbuh juga kan sikap ingin menyesuaikan dengan apa yang kita ucapkan. Betul? Yakin itu. Jadi ternyata gampang juga kan? He..he. udah deh, kita nggak usah ngeributan istilah gampang-gampang susah dan susah-susah gampang. Nyang penting jalanin aja deh aktivitas mulia ini.
Seperti sekarang nih, maksiat kian merajalela. Media massa cetak dan elektronik getol ikut membantu mensyiarkan kemaksiatan. Hasilnya? Kita semua dikepung dari berbagai arah penjuru angin. Nyaris nggak bisa bernafas. Semua media seperti seragam; memberi menu pornografi, kekerasan, dan juga seks. Kalo pun ada media Islam, ïsinyalïnya nggak begitu kuat untuk mengalahkan dominasi bacaan dan tayangan yang mengabaikan aspek moral dan ajaran agama. Menyedihkan.
Itu sebabnya, peran kita dalam dakwah juga harus terus diaktifkan. Nggak kenal lelah, pantang menyerah. Maju terus pantang mundur. Nyalakan terus semangat di jiwa kita. Dakwah adalah jalan yang harus kita tempuh, apa pun risikonya. Sebab, tanpa dakwah, kemaksiatan ini makin membudaya dan orang yang bermaksiat kian merasa aman. Betul?
Aktivitas yang mulia
Islam adalah agama dakwah. Salah satu inti dari ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, yakni mengajak manusia kepada jalan Allah (tauhid) dengan hikmah (hujjah atau argumen). Kepedulian terhadap dakwah jugalah yang menjadi trademark seorang mukmin. Artinya, orang mukmin yang cuek bebek sama dakwah berarti bukan mukmin sejati. Bener, lho. Apa iya kamu tega kalo ada teman kamu yang berbuat maksiat kamu diemin aja?
Bahkan Allah memuji aktivitas mulia ini dalam firman-Nya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim" (QS Fushshilat [41]: 33)
Dalam ayat lain Allah memerintahkan kepada umatnya untuk berdakwah. Seperti dalam firman-Nya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.(QS an-Nahl [16]: 125)
Menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari perbuatan munkar merupakan identitas seorang muslim. Itu sebabnya, Islam begitu dinamis. Buktinya, mampu mencapai hingga sepertiga dunia. Itu artinya, hampir seluruh penghuni daratan di dunia ini pernah hidup bersama Islam. Kamu tahu, ketika kita belajar ilmu bumi, disebutkan bahwa dunia ini terdiri dari sepertiga daratan dan dua pertiga lautan. Wah, hebat juga ya para pendahulu kita? Betul, sebab mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimat tauhidï di bumi ini. Sesuai dengan seruan Allah: Dan perangilah mereka itu, hingga tidak ada fitnah lagi dan (hingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. (al-Baqarah [2]: 193)
Kini, di jaman yang udah jauh berubah ketimbang di jaman onta arus informasi makin sulit dikontrol. Internet, misalnya, telah mampu memberikan nuansa budaya baru. Kecepatan informasi yang disampaikannya ibarat pisau bermata dua. Bisa menguntungkan sekaligus merugikan. Celakanya, ternyata kita kudu ngurut dada lama-lama, bahwa kenyataan yang harus kita hadapi dan rasakan adalah lunturnya nilai-nilai ajaran Islam kita. Tentu ini akibat informasi rusak yang telah meracuni pikiran dan perasaan kita. Utamanya remaja Muslim. Kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa banyak teman remaja yang tergoda dengan beragam rayuan maut peradaban rusak itu; seks bebas, narkoba, dan beragam kriminalitas. Walhasil, amburadul deh!
Sobat muda muslim, Islam membutuhkan tenaga, harta, dan bahkan nyawa kita untuk menegakkan agama Allah ini. Dengan aktivitas dakwah yang kita lakukan, maka kerusakan yang tengah berlangsung ini masih mungkin untuk dihentikan, bahkan kita mampu untuk membangun kembali dan mengokohkannya. Tentu, semua ini bergantung kepada partisipasi kita dalam dakwah ini.
Coba, apa kamu nggak risih dengan maraknya pergaulan bebas di kalangan remaja? Apa kamu nggak merasa was-was dengan tingkat kriminalitas pelajar yang makin meroket? Apa kamu nggak kesel ngeliat tingkah remaja yang hidupnya nggak dilandasi dengan ajaran Islam? Seharusnya masalah-masalah model beginilah yang menjadi persoalan kita siang dan malam. Beban yang seharusnya bisa mengambil jatah porsi makan kita, beban yang seharusnya menggerogoti waktu istirahat kita, dan beban yang senantiasa membuat pikiran dan perasaan kita nggak tenang kalo belum berbuat untuk menyadarkan mereka.
Itu sebabnya, kita kudu melakukan aktivitas mulia ini, sebagai bukti kasih sayang kita kepada saudara yang lain. Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan keadaan suatu kaum atau masyarakat yang menjaga batasan hukum-hukum Allah (mencegah kemungkaran) adalah ibarat satu rombongan yang naik sebuah kapal. Lalu mereka membagi tempat duduknya masing-masing, ada yang di bagian atas dan sebagian di bagian bawah. Dan bila ada orang yang di bagian bawah akan mengambil air, maka ia harus melewati orang yang duduk di bagian atasnya. Sehingga orang yang di bawah tadi berkata: Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri (untuk mendapatkan air), tentu aku tidak mengganggu orang lain di atas. Bila mereka (para penumpang lain) membiarkannya, tentu mereka semua akan binasa.(HR Bukhari)
Untuk ke arah sana, tentu membutuhkan kerjasama yang solid di antara kita. Sebab, kita menyadari bahwa kita bukanlah Superman atawa Rambo yang bisa melakukan aksi menumpas kejahatan hanya dengan seorang diri. Kalo kita ingin cepat membereskan berbagai persoalan tentu butuh kerjasama yang apik, solid dan fokus pada masalah. Pemikiran dan perasaan di antara kita kudu disatukan dengan ikatan akidah Islam yang lurus dan benar. Kita harus satu persepsi, bahwa Islam harus tegak di muka bumi ini. Kita harus memiliki cita-cita, bahwa Islam harus menjadi nomor satu di dunia untuk mengalahkan segala bentuk kekufuran. Itulah di antaranya kenapa kita wajib berdakwah.
Subur dengan cobaan
Sobat muda muslim, aktivitas mulia ini ternyata kudu berhadapan dengan segala risiko. Risiko yang nggak jarang bikin kita sebagian dari kita berguguran di tengah jalan. Nggak kuat nahan bebannya. Itu sebabnya, kesabaran dan keimanan yang mantep sangat dibutuhkan dalam mengarungi medan dakwah ini. Para pendahulu kita juga pernah mengalami hal demikian. Allah Swt. mengabadikannya dalam al-Quran: Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.(QS al-Baqarah [2]: 214)
Coba, gimana menderitanya Amar bin Yasir yang disiksa oleh para pembesar Quraisy ketika awal-awal Islam berkembang di kota Mekkah. Nggak hanya itu, beliau harus rela menyaksikan kedua ortunya gugur sebagai syuhada di depan mata kepalanya sendiri. Kita juga bisa meneladani bagaimana pula pengorbanan Bilal bin Rabbah yang rela dijemur di siang hari yang panas dan tubuhnya ditindih batu, sementara pasir di bawahnya terasa membakar kulitnya. Tapi, subhanallah, Bilal sanggup melewatinya dengan kesabaran dan keimanan yang tetap menancap di hatinya.
Boleh dibilang, di balik manisnya aktivitas dakwah, ternyata menyimpan rasa pahit yang amat sangat. Tapi ini sebuah pilihan. Dan setiap pilihan ada risikonya. Rasulullah saw. pun pernah berkata kepada pamannya, pada saat ia meminta beliau untuk mengurangi kegiatan dakwahnya,: (Paman), demi Allah, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah memenangkan agama ini atau aku hancur karenanya.(dalam Sirah Ibnu Hisyam)
Kontan aja berbagai penyiksaan dialami para sahabatnya. Pembesar Quraisy sendiri bahkan sempat akan membunuh Muhammad. Berat juga emang. Ya, begitulah, menyampaikan kebenaran Islam kepada mereka yang mulai pudar dengan Islamnya, apalagi yang membenci Islam, akan ada aja gesekannya. Maklumlah, seperti kata pepatah bagi mereka yang sudah terbiasa dengan kegelapan, cahaya terang memang menyilaukan. Pantes aja kalo kita ngasih tahu sama mereka yang masih doyan maksiat, suka reaktif. Langsung kaget dan mungkin menyerang kita, dari yang sekadar umpatan sampe pukulan.
Padahal, maksud kita juga adalah menolongnya. Sekadar mengingatkannya. Dan itu bukan berarti kita udah benar en suci. Sangat boleh jadi kita juga masih perlu belajar banyak. Ya, kita sama-sama aja jalan ke arah kebaikan. Kata Kahlil Gibran, Engkau buta, sedangkan aku bisu tuli. Jadi mari berpegangan agar mengerti Tul nggak?
Kesabaran dan istiqomah juga harus dimiliki setiap pegiat dakwah. Bahkan itu akan menjadi penghibur kita di kala sedih. Biarlah sekarang kita dbilangin sok tahu, mau menang sendiri, sok suci, tukang kritik orang, fanatik, fundamentalis. Meski semua itu juga nggak benar, cuma anggapan mereka yang nggak suka aja sama aktivitas dakwah. Kita nggak gentar, karena Allah menjanjikan kenikmatan dalam bentuk lain. Firman Allah Swt.:Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS Fushilat [41]: 30)
Oke deh, nyalakan terus semangatmu untuk berdakwah. Apa pun yang bakal terjadi. Ini pilihan hidup kita. Jalan yang insya Allah bisa mengantarkan kebangkitan Islam dan umatnya. Tetep semangat sobat!?
Rabu, 26 Januari 2011
ujian.., bagaimana menghadapinya..!!!
Ujian
itulah yang membuat kita
mengenali diri,
siapa kita,
kemana kita dan
dimana berakhirnya kita....
ujian
itu menjadikan kita mengenali diri kita...
berani melangkah dan terus melangkah...
tanpa ujian
kita sendiri tidak mengetahui menilai siapa diri kita...
terima kasih kepada yang menganugerahkan ujian itu..
Alhamdulillah,
Thank you ALLAH
untuk sahabatku yang ku cintai..
Aku terheran, setengah takjub malahan. Di detik ini aku mencoba tuk kembali mengenang persahabatan kita, kawan? Apakah hanya sebatas itu aku di pikiranmu? Aku teramat mencintaimu, menyayangimu. Namun ada hal yang mungkin belum jua kau mengerti, dan aku akan coba pahamkan dengan caraku sendiri. Kita memang berteman, sahabat, yang katanya akan senantiasa senantiasa senasib seperjuangan. Namun, bukan berarti aku akan selalu membenarkanmu di setiap tindakan. Ada hal yang mesti senantiasa kita pegang. Sendiri, dan tidak untuk dibagi.
Kau memaang sahabatku. Namun tak berarti aku kan senantiasa membenarkanmu, kawan. Aku tak memintamu untuk memahamiku tentang hal itu. Namun aku juga tak akan berpaling jika kau pertanyakan sikapku. Aku pun tak akan marah hanya karena kekecewaanmu atas ketidakberpihakanku padamu. Aku hanya ingin berikan yang terbaik bagimu, dan tidak dengan membiarkan mu terlibat begitu jauh dalam kesalahan.
Teman, maafkan…
Maaf jika caraku menyakitimu. Maaf atas ketidaksempurnaanku. Aku tak tahu seperti apa aku kini di matamu. Namun, aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu. Secukupnya saja. Karena aku tak ingin cinta itu melebihi cintaku pada Sang Pemilik Kebenaran.
Kau memaang sahabatku. Namun tak berarti aku kan senantiasa membenarkanmu, kawan. Aku tak memintamu untuk memahamiku tentang hal itu. Namun aku juga tak akan berpaling jika kau pertanyakan sikapku. Aku pun tak akan marah hanya karena kekecewaanmu atas ketidakberpihakanku padamu. Aku hanya ingin berikan yang terbaik bagimu, dan tidak dengan membiarkan mu terlibat begitu jauh dalam kesalahan.
Teman, maafkan…
Maaf jika caraku menyakitimu. Maaf atas ketidaksempurnaanku. Aku tak tahu seperti apa aku kini di matamu. Namun, aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu. Secukupnya saja. Karena aku tak ingin cinta itu melebihi cintaku pada Sang Pemilik Kebenaran.
antara diam dan berkata-kata
Bila memisahkan keduanya sebagai sebuah objek sikap yang patut dipertimbangkan, maka dalam proporsinya, kedua sikap tersebut memiliki manfaat sekaligus kekurangannya. Memilah sikap dari kedua pilihan tersebut, dalam keseharian akan selalu kita butuhkan. Dan perkara yang diperlukan adalah tentang menjadikan dua sikap tersebut tidak jatuh dalam kesiaan atau berlebih-lebihan.
Misalnya, berkata-kata dan kemampuan berbicara di depan khalayak umum menjadi sebuah kebutuhan karena kita memiliki fungsi sebagai makhluk sosial dengan kebiasaan berinteraksi antar sesama. Untuk kepentingan itu, berkata-kata adalah sebuah jalan sikap yang harus diambil. Lalu bagaimana dengan diam?
Sama halnya, diam memiliki faedah dan syarat kondisionalnya tersendiri. Yang penting adalah kita mengetahui waktu-waktu yang tepat untuk mengambil diam sebagai sikap kala kita berinteraksi dengan orang lain. Diam bahkan bisa menjadi kebiasaan efektif yang bila diterapkan akan membuat diri kita menjadi lebih produktif. Yaitu dengan membiasakan lebih banyak diam dan mendengar daripada berbicara
Pada umumnya, orang yang banyak berbicara (berkata-kata) adalah orang yang lemah kepribadiannya. Ciri orang intelek menurut Islam yang disebutkan Al-Qur’an adalah orang yang mendengarkan perkataan orang lain (alladziina yastami’unal qaul) dan mengikuti yang baik dari perkataan itu (fayattabiuna ahsanah). Ia adalah orang yang mau mendengarkan dan menganalisis.
Pada umumnya juga, orang pandai yang suka mendengarkan orang lain akan disukai. Sebagian manusia lebih siap untuk didengarkan daripada mendengarkan. Ada orang yang mempunyai kebiasaan berbicara dulu, baru berpikir sehingga ketika akan berhenti berbicara, dia tidak menemukan bagaimana caranya berhenti atau akan kesulitan untuk berhenti. Karena itu, diam menunjukkan kekuatan kepribadian seseorang. Kemampuan mendengarkan adalah kekuatan kepribadian yang luar biasa besarnya.
Mekanisme yang baik adalah seperti ini: Jika ingin berbicara, sebaiknya kita harus benar-benar yakin bahwa apa yang akan disampaikan adalah sesuatu yang sudah dipikirkan. Kurangilah perkataan-perkataan yang muncul secara refleks. Biasakanlah diam atau merenung, maka kita akan menjadi produktif dalam hidup. Diam bukan dalam arti kita sama sekali tidak berbicara, melainkan diam dalam arti hanya berbicara jika ada kebutuhan untuk itu.
Ada mekanisme lain juga yang telah ditunjukkan bila kita merujuk kepada Al-Qur’an
“...Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. An-Nisa’: 8 ) (Qaulan sadiidan)
“…Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya,” (QS. An-Nisa’:63) (Qaulam Baliighan)
Perkataan yang baik juga disebut dengan Qaulam ma’rufa dalam QS. Al-Baqarah: 263.
Al-Qur’an menunjukkan pilihan dalam berbicara yakni pembicaraan yang disertakan perkataan yang baik. Dan mekanisme mana lagi yang lebih baik dibandingkan dengan anjuran yang difirmankan olehNya?
Misalnya, berkata-kata dan kemampuan berbicara di depan khalayak umum menjadi sebuah kebutuhan karena kita memiliki fungsi sebagai makhluk sosial dengan kebiasaan berinteraksi antar sesama. Untuk kepentingan itu, berkata-kata adalah sebuah jalan sikap yang harus diambil. Lalu bagaimana dengan diam?
Sama halnya, diam memiliki faedah dan syarat kondisionalnya tersendiri. Yang penting adalah kita mengetahui waktu-waktu yang tepat untuk mengambil diam sebagai sikap kala kita berinteraksi dengan orang lain. Diam bahkan bisa menjadi kebiasaan efektif yang bila diterapkan akan membuat diri kita menjadi lebih produktif. Yaitu dengan membiasakan lebih banyak diam dan mendengar daripada berbicara
Pada umumnya, orang yang banyak berbicara (berkata-kata) adalah orang yang lemah kepribadiannya. Ciri orang intelek menurut Islam yang disebutkan Al-Qur’an adalah orang yang mendengarkan perkataan orang lain (alladziina yastami’unal qaul) dan mengikuti yang baik dari perkataan itu (fayattabiuna ahsanah). Ia adalah orang yang mau mendengarkan dan menganalisis.
Pada umumnya juga, orang pandai yang suka mendengarkan orang lain akan disukai. Sebagian manusia lebih siap untuk didengarkan daripada mendengarkan. Ada orang yang mempunyai kebiasaan berbicara dulu, baru berpikir sehingga ketika akan berhenti berbicara, dia tidak menemukan bagaimana caranya berhenti atau akan kesulitan untuk berhenti. Karena itu, diam menunjukkan kekuatan kepribadian seseorang. Kemampuan mendengarkan adalah kekuatan kepribadian yang luar biasa besarnya.
Mekanisme yang baik adalah seperti ini: Jika ingin berbicara, sebaiknya kita harus benar-benar yakin bahwa apa yang akan disampaikan adalah sesuatu yang sudah dipikirkan. Kurangilah perkataan-perkataan yang muncul secara refleks. Biasakanlah diam atau merenung, maka kita akan menjadi produktif dalam hidup. Diam bukan dalam arti kita sama sekali tidak berbicara, melainkan diam dalam arti hanya berbicara jika ada kebutuhan untuk itu.
Ada mekanisme lain juga yang telah ditunjukkan bila kita merujuk kepada Al-Qur’an
“...Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir beberapa kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. An-Nisa’: 8 ) (Qaulan sadiidan)
“…Mereka itu adalah orang-orang yang (sesungguhnya) Allah mengetahui apa yang ada di dalam hatinya. Karena itu berpalinglah dari mereka, dan berilah mereka nasihat, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang membekas pada jiwanya,” (QS. An-Nisa’:63) (Qaulam Baliighan)
Perkataan yang baik juga disebut dengan Qaulam ma’rufa dalam QS. Al-Baqarah: 263.
Al-Qur’an menunjukkan pilihan dalam berbicara yakni pembicaraan yang disertakan perkataan yang baik. Dan mekanisme mana lagi yang lebih baik dibandingkan dengan anjuran yang difirmankan olehNya?
taujih pagi ini...
assalamualaikum akhwatifillah...
apa kabar hari ini..!!!
ukhti,, untuk mendapatkan ketenangan bathin ini..coba camkan dalam hati kita:
Aku hanya akan hidup hari ini..
maka aku akan mengucapkan..
"wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai..tenggelamlah seperti mataharimu.. aku tak kan pernah menangisi kepergianmu dan kamu tdk akan prnh melihatku termenung sedetikpun utk mengingatmu.. Kamu telah meninggalkan kami semua..pergi dan tak pernah kembali...
Wahai masa depan..
engkau masih dlm keghaiban,,maka aku tdk akan prnh bermain dgn khayalan dan menjual diri hanya utk sebuah dugaan.. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yg blm tentu ada..karna esok hari mungkin tak ada sesuatu.. esok hari adalah sesuatu yg blm d ciptakan dan tak ada satupun darinya yg dpt d sebutkan.."
apa kabar hari ini..!!!
ukhti,, untuk mendapatkan ketenangan bathin ini..coba camkan dalam hati kita:
Aku hanya akan hidup hari ini..
maka aku akan mengucapkan..
"wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai..tenggelamlah seperti mataharimu.. aku tak kan pernah menangisi kepergianmu dan kamu tdk akan prnh melihatku termenung sedetikpun utk mengingatmu.. Kamu telah meninggalkan kami semua..pergi dan tak pernah kembali...
Wahai masa depan..
engkau masih dlm keghaiban,,maka aku tdk akan prnh bermain dgn khayalan dan menjual diri hanya utk sebuah dugaan.. Aku pun tak bakal memburu sesuatu yg blm tentu ada..karna esok hari mungkin tak ada sesuatu.. esok hari adalah sesuatu yg blm d ciptakan dan tak ada satupun darinya yg dpt d sebutkan.."
kekuatan luar biasa - DOA
KETIKA kumohon pada Allah kekuatan, Allah memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat.
KETIKA kumohon pada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah untuk dapat kupecahkan.
KETIKA kumohon pada Allah kesejahteraan, Allah memberiku akal untuk berfikir. KETIKA kumohon pada Allah keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk dapat ku atasi.
KETIKA kumohon pada Allah sebuah cinta, Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk ku tolong.
KETIKA kumohon pd Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan.
Aku tak pernah menerima apa yg kuminta tapi aku menerima segala yg kubutuhkan. Doaku terjawab sudah."
KETIKA kumohon pada Allah kebijaksanaan, Allah memberiku masalah untuk dapat kupecahkan.
KETIKA kumohon pada Allah kesejahteraan, Allah memberiku akal untuk berfikir. KETIKA kumohon pada Allah keberanian, Allah memberiku kondisi bahaya untuk dapat ku atasi.
KETIKA kumohon pada Allah sebuah cinta, Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk ku tolong.
KETIKA kumohon pd Allah bantuan, Allah memberiku kesempatan.
Aku tak pernah menerima apa yg kuminta tapi aku menerima segala yg kubutuhkan. Doaku terjawab sudah."
bagusnya apa ya!!!
Menemui saudariku’
Gagahnya deru langkah pagi ini menyuratkan berjuta hikmah terindah dalam setiap detik denyut nadi penghidupan. Puja beserta puji hendaknya selalu tercurah kepada Allah SWT. Selanjutnya salawat beserta salam atas junjungan kita nabi Muhammad SAW. Ukhti lewat sepucuk surat kenangan atau mungkin surat ana yang pertama dan yang terakhir, namun jika Allah berkenang mungkin pula surat ini adalah surat pertama dan surat pembuka ikatan silaturahmi di antara kita, hanya waktu yang mampu menjawabnya. Ana bukanlah seorang pujangga yang mampu melenakan dengan kata-kata dan ana juga bukan WS.Rendra yang mampu membuat ukhti terkesima, ana hanya seorang insan biasa yang hanya mampu merangkai kata demi menyibak beribu makna. Ukhti yang sholehah, bersama denting pena dimalam sunyi ana mencoba menggoreskan apa yang terasa dan apa yang patut ana ungkapkan, ukhti tak terbersit sedikitpun dihati ana akan rahmat Allah yang diberikannya kepada ukhti, tak terlintas dimata ana ukhti akan berani mengungkapkannya, meskipun itu hanya lewat sebuah surat, ana merasa bersyukur .mempunyai saudari seperti ukhti, taukah ukhti ketika ana menerima surat ukhti kemaren sore, ana menyangka itu adalah surat undangan rapat atau surat-surat penting tentang pengelolaan organisasi kita.
mungkin di smbung besok aja kali ya,,, mo istirahat dulu..
kita sambung lagi ya,,
Ukhti semoga Allah selalu merahmatimu, bukannya ana tak menghargai perasaan ukhti sama sekali dan bukan pula ana ingin menepis perasaan yang ukhti miliki terhadapku, tapi,,,masa belum bisa memberi waktu bagi kita untuk mengikuti kekangan hawa nafsu yang meruntuhkan berjuta angan, beribu mimpi, dan berasa sampai kearah tersebut. Ana mengerti bagaimana perasaan ukhti saat membaca surat ini, jika ukhti mau membenci ana setelah membaca surat ini ana merelakannya, agar jauh jarak kita bisa membuat kita introspeksi diri, tapi,,ana mohon jangan buang ana sebagai saudara ukhti.
Adikku jika kejujuran telah ukhti sampaikan kepada ana tentang perasaan ukhti, ternyata ukhti lebih berani dari diri ana yang hanya mampu menyimpan, ana tlah terlebih dahulu merasakan hal yang sama semenjak ana mengenal ukhti, namun ana tak ingin perasaan ini mengganggu hubungan kita dalam organisasi. Ukhti ana merasa beruntung mengenal ukhti selama ini, karena semangat yang ukhti miliki, semangat yang tak ana temukan pada saudrai ana yang lain, keegoisan yang sekali-kali membuat ana berfikir untuk melawan, dan terkadang kecerian yang selalu meramaikan taman-taman kesepian dalam diri ana. Ana berfikir kembali dalam kesunyian ini dan ana harap pemikiran ana kali ini tak merugikan ana dan ukhti, jalan kita masih panjang banyak onak dan duri yang akan kita lalui. Masa yang begitu sulit kita lalui selama ini belum seberapa jika dibandingkan dengan tingginya gelombang pasang dan amukan badai agar kita mampu berlayar ke pulau impian dengan penuh kemenangan. Coba ukhti ingat kembali kisah Adam dab Hawa, Romeo dan Juliet serta Laila dan Majnun yang karena menurutkan rasa cinta rela mengorbankan segalanya,. Tapi dengan itu semua kita dapat mengambil berjuta pelajaran dan beribu manfaat, dengan demikian kita dapat memetik berjuta hikmah didalamnya, apalah gunanya kita memperturutkan nafsu dunia jika hal tersebut dapat meruntuhkan berjuta tembok-tembok peradaban masa depan yang telah lama kita bangun.
Ukhti jika Allah berkenang suatu saat nanti kita pasti akan dipertemukannya dalam suatu ikatan yang diredhainya, Amiin…
Gagahnya deru langkah pagi ini menyuratkan berjuta hikmah terindah dalam setiap detik denyut nadi penghidupan. Puja beserta puji hendaknya selalu tercurah kepada Allah SWT. Selanjutnya salawat beserta salam atas junjungan kita nabi Muhammad SAW. Ukhti lewat sepucuk surat kenangan atau mungkin surat ana yang pertama dan yang terakhir, namun jika Allah berkenang mungkin pula surat ini adalah surat pertama dan surat pembuka ikatan silaturahmi di antara kita, hanya waktu yang mampu menjawabnya. Ana bukanlah seorang pujangga yang mampu melenakan dengan kata-kata dan ana juga bukan WS.Rendra yang mampu membuat ukhti terkesima, ana hanya seorang insan biasa yang hanya mampu merangkai kata demi menyibak beribu makna. Ukhti yang sholehah, bersama denting pena dimalam sunyi ana mencoba menggoreskan apa yang terasa dan apa yang patut ana ungkapkan, ukhti tak terbersit sedikitpun dihati ana akan rahmat Allah yang diberikannya kepada ukhti, tak terlintas dimata ana ukhti akan berani mengungkapkannya, meskipun itu hanya lewat sebuah surat, ana merasa bersyukur .mempunyai saudari seperti ukhti, taukah ukhti ketika ana menerima surat ukhti kemaren sore, ana menyangka itu adalah surat undangan rapat atau surat-surat penting tentang pengelolaan organisasi kita.
mungkin di smbung besok aja kali ya,,, mo istirahat dulu..
kita sambung lagi ya,,
Ukhti semoga Allah selalu merahmatimu, bukannya ana tak menghargai perasaan ukhti sama sekali dan bukan pula ana ingin menepis perasaan yang ukhti miliki terhadapku, tapi,,,masa belum bisa memberi waktu bagi kita untuk mengikuti kekangan hawa nafsu yang meruntuhkan berjuta angan, beribu mimpi, dan berasa sampai kearah tersebut. Ana mengerti bagaimana perasaan ukhti saat membaca surat ini, jika ukhti mau membenci ana setelah membaca surat ini ana merelakannya, agar jauh jarak kita bisa membuat kita introspeksi diri, tapi,,ana mohon jangan buang ana sebagai saudara ukhti.
Adikku jika kejujuran telah ukhti sampaikan kepada ana tentang perasaan ukhti, ternyata ukhti lebih berani dari diri ana yang hanya mampu menyimpan, ana tlah terlebih dahulu merasakan hal yang sama semenjak ana mengenal ukhti, namun ana tak ingin perasaan ini mengganggu hubungan kita dalam organisasi. Ukhti ana merasa beruntung mengenal ukhti selama ini, karena semangat yang ukhti miliki, semangat yang tak ana temukan pada saudrai ana yang lain, keegoisan yang sekali-kali membuat ana berfikir untuk melawan, dan terkadang kecerian yang selalu meramaikan taman-taman kesepian dalam diri ana. Ana berfikir kembali dalam kesunyian ini dan ana harap pemikiran ana kali ini tak merugikan ana dan ukhti, jalan kita masih panjang banyak onak dan duri yang akan kita lalui. Masa yang begitu sulit kita lalui selama ini belum seberapa jika dibandingkan dengan tingginya gelombang pasang dan amukan badai agar kita mampu berlayar ke pulau impian dengan penuh kemenangan. Coba ukhti ingat kembali kisah Adam dab Hawa, Romeo dan Juliet serta Laila dan Majnun yang karena menurutkan rasa cinta rela mengorbankan segalanya,. Tapi dengan itu semua kita dapat mengambil berjuta pelajaran dan beribu manfaat, dengan demikian kita dapat memetik berjuta hikmah didalamnya, apalah gunanya kita memperturutkan nafsu dunia jika hal tersebut dapat meruntuhkan berjuta tembok-tembok peradaban masa depan yang telah lama kita bangun.
Ukhti jika Allah berkenang suatu saat nanti kita pasti akan dipertemukannya dalam suatu ikatan yang diredhainya, Amiin…
berhati-hatilah terhadap kelalaian
“Janganlah sekali-kali kamu berputus asa dalam bencana, karna akan datang solusi yang segera melepaskan jerat bencana itu”
Waspadalah terhadap kelalaian, yaitu lupa dari berzikir kepada Allah swt, meninggalkan sholat, berpaling dari Al-Qur’an, serta meninggalkan pengajian atau majelis yang bermanfaat. Hati akan menjadi keras dan terkunci sehingga tidak mampu lagi mengenal yang ma’ruf dan mengingkari yang munkar serta tidak mampu lagi untuk memahami agama secara benar. Mereka yang seperti itu akan memiliki hati yang resah, sedih, sengsara, dan pikiran yang kusut. Itu adalah akibat dari kelengahan kita serta kelalaian yang kita perbuat didunia. Coba kita merenung sejenak, ketika kita melakukan semua hal yang tidak bermanfaat bahkan melanggar agama…….apa yang akan kita terima kelak dihari akhir???????
Saudariku……..
Waspadalah terhadap kelalaian, yaitu lupa dari berzikir kepada Allah swt, meninggalkan sholat, berpaling dari Al-Qur’an, serta meninggalkan pengajian atau majelis yang bermanfaat. Hati akan menjadi keras dan terkunci sehingga tidak mampu lagi mengenal yang ma’ruf dan mengingkari yang munkar serta tidak mampu lagi untuk memahami agama secara benar. Mereka yang seperti itu akan memiliki hati yang resah, sedih, sengsara, dan pikiran yang kusut. Itu adalah akibat dari kelengahan kita serta kelalaian yang kita perbuat didunia. Coba kita merenung sejenak, ketika kita melakukan semua hal yang tidak bermanfaat bahkan melanggar agama…….apa yang akan kita terima kelak dihari akhir???????Maka dari itu……. Wahai saudariku……mari kita bersama-sama untuk selalu mendekatkan iri kepada Allah swt, lisan kita hendaklah selalu kita mengingat Allah swt. Berzikir kepada-Nya dimanapun kita berada.
Allah swt berfirman dalam surat Ar-Ra’du ayat 28 yang artinya “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah..karna hnya dengan mengingat Allah hati kita menjadi tentram”.
Bekal: janganlah menunggu datangnya kebahagiaan untuk dapat tersenyum, tapi tersenyumlah agar kamu berbahagia
salam semangat dari saudaramu ini yang selalu setia mencari kebenaran dan selalu berusaha untuk istiqomah.
"NAILUL HIDAYATI" ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)